Kamis, 11 September 2008

my poetry, just read it!

Sunday, July 06, 2008

BALADA SEORANG CLEANING SERVICE (1)
Oleh: El Zukhrufy


Aku hanya sampah!
Berteman debu,
seliweran di koridor-koridor tempat kuliahmu
daun gugur, plastik, kertas-kertas…
entah itu tugas kuliahmu yang tidak sempurna
entah itu surat cinta dari orang yang tidak kau suka
entah itu bukti pembayaran SPPmu semester lalu
entah itu ‘pelampung’ saat ujianmu…
Kau bebankan semua di pundakku
Aku kotor!
Bersanding tikus-tikus got, penuh comberan busuk!
Setiap hari, setiap saat…
Coklat, oranye dan biru…
Warna hidup yang menyapaku
Tak usah pura-pura iba kepadaku
Aku tak butuh itu!
Tak usah pedulikan aku
Aku hanya cleaning service di kampusmu…



BALADA SEORANG CLEANING SERVICE (2)


Masih ingatkah kau, sobat?
Saat kita belajar bersama
Saat kita berlarian di pematang sawah
Dapatkah kau kenang, sobat?
Saat kau terhanyut di sungai desa kita
Airnya deras hampir menenggelamkanmu
Aku segera menyelamatkanmu…
Satu detik lalu aku menyapamu dalam senyum
Namun, aku harus menelan pahit
Acuh, karena kau tak mengenalku…
Atau (mungkin) tak mau lagi mengenangku
Aku harus melihatmu berlalu, congkak!
Kau membuang sesuatu, dengan wajah penuh amarah
bukan di tempatnya, dan aku harus segera memungutnya
karena ini tugasku, nyawaku…
Aku ingin mengatakan sesuatu padamu,
Tak usah mengingat apapun tentangku, sobat…
Aku hanya cleaning service di kampusmu…


BALADA SEORANG CLEANING SERVICE (3)



Kau selalu disitu, di tempat yang sama
Aku tahu itu tempat kesukaannmu
Melihatmu duduk di ruang kuliahmu, nyaman
Dari hari ke hari
Dan aku…
Berteman peluh hingga tak mungkin kau dekati
Menyaksikanmu berjalan dengan pujaanmu,
Hatiku sesak
Namun tak mampu menyalahi takdir ini
Mata kita menyapa
Kau tersenyum manis padaku
Senyum yang tak mungkin hanya untukku
Oh… Kau memang baik, dinda…
Pada siapapun, aku tahu itu
Tapi…
Kau hanya akan remukkan hatiku…
Jangan hiraukan aku, dinda…
Sekalipun, jangan pernah!
Aku tahu aku tak layak menaruh hati padamu
Aku hanya cleaning service di kampusmu…


*Puisi ini pernah dimuat di PK Identitas Unhas
Edisi akhir Agustus 2008

CERPEN_KU...


Wednesday, June 25th, 2008


SAAT CINTA DENDANGKAN LUKA*

Oleh: El Zukhrufy

Kutemukan diriku tersenyum saat kubaca lembar demi lembar metafora kehidupannya. Sungguh, kisah yang sangat mengharukan dan membanggakan. Kata-kata, pun kalimat-kalimat yang digunakan untuk mengisahkan dirinya sanggup membiusku dan memaksaku untuk tidak berpaling sedikitpun dari diary itu. Tanpa ku sadari, telah kubangun bongkah-bongkah kekagumanku untuknya. Kekaguman yang menjadi sangat, menjelma cinta. Saat dia harus memegang amanah yang (mungkin) orang lain tak akan sanggup untuk memikulnya karena terlalu berat untuk dijalankan. Saat dia mati-matian memperjuangkan hak-hak orang lain yang tertindas, menyuarakan isi hatinya yang tidak ingin melihat ketidakadilan terjadi di negara ini, juga kemarahan dan kebencian yang sangat melihat kezaliman yang terjadi di bumi Palestina (“Boikot Israel” adalah kata-kata yang selalu dia utarakan). Saat dia mendapat curahan kasih sayang dari kedua orangtuanya. Saat dia menjalani hari-harinya yang melelahkan. Saat dia mendapatkan penghargaan atas prestasi-prestasinya. Saat bundanya merawat dan mendidiknya dengan penuh kasih sayang. Sungguh..!! Kekaguman dan cintaku berlipat-lipat padanya.


***

Aku melihatnya. Dia tepat di depanku saat ini. Bagaimana tidak?? Sekarang, dia di depan sana sebagai pemateri. Saat menyebut namanya, hatiku bergetar. Khairul Imam, namanya. Nama yang sungguh indah. Wajahnya pun menyejukkan hati setiap peserta. Kata-katanya lugas. Beberapa jenak, aku merasa kagum padanya. Kagum akan bijaknya. Kagum akan wibawanya, retorikanya, bahasa tubuhnya, mata elangnya. Berlebihan, mungkin. Tapi, ini adalah ungkapan kejujuran seseorang tanpa paksaan dari pihak lain. Langkahnya… Senyumnya… Gerak tubuhnya… Pesonanya… Lalu, kurasakan sesuatu yang menggelitik hatiku. Apakah ini??

***


Pagi yang cerah. Allah Yang Esa telah menunjukkan salah satu bentuk kuasa atas ciptaan-Nya.
“Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam…”
Ya. Malam telah berganti pagi. Saatnya burung-burung untuk bersenandung riang, lepas tanpa beban. Saatnya para petani beranjak di tengah kabutnya pagi, menggarap sawah sekedar untuk menyambung hidup. Saatnya para penjual nasi menjajakan dagangannya dari pintu ke pintu asrama mahasiswa. Saatnya para mahasiswa mendapat ideologi baru yang ia yakini dan suatu saat bahkan akan membunuhnya. Saatnya para pejabat menemukan dan merangkai kosakata-kosakata baru, yang menggiurkan telinga untuk menumpuk janji-janji baru yang kian menggunung (aku muak dengan itu semua, masyarakat sudah terlalu kenyang akan janji-janji). Saatnya untuk bergegas melawan waktu yang hanya diciptakan 24 jam sehari, yang terasa begitu singkat bagi mereka yang gila harta. Saatnya untuk bangkit menantang zaman yang semakin sulit untuk dihadapi oleh mereka yang “hina”, mereka yang sepanjang hidup selalu berada di tempat yang sama, kolong jembatan! Mereka yang tidak pernah merasakan hidup enak, bahkan harus akrab dengan perut kosong seharian, hingga tersenyumpun mereka tak kenal lagi. Hingga mati menjadi pilihan terbaik. Ya. Siapapun, apapun kedudukannya, sekarang saatnya beraktivitas…

Saat semuanya bergelut dengan perannya masing-masing, aku baru saja akan memulai hariku yang baru, sambil meneguk minuman kesukaanku, susu hangat. Kuraih remote dan kunyalakan televisi. Kucari channel yang menyajikan berita aktual pagi, akhirnya dapat. Disana tersaji berita tentang aksi salah satu organisasi mahasiswa yang tidak setuju dan menolak kenaikan harga BBM. Tapi, ada yang beda. Aksi itu tidak anarkis seperti biasanya. Ketika aku menikmati berita itu, aku terkesiap, tersentak kaget! Ruang hatiku bergetar. Ada desiran hebat disana. Aku mengenal sosok itu. Seorang aktivis dakwah yang dengan gagahnya berorasi sambil memegang tongkat yang terpasang bendera merah putih di atasnya. Bersama membentuk barisan dengan teman-temannya di depan gedung DPR. Suaranya lantang mengangkasa, menggema. Tidak hanya di gedung DPR sana, tapi juga singgah mengetuk-ngetuk, kemudian masuk dan menggema di sanubariku. Mata elangnya menyiratkan kebencian, kemarahan dan ketidaksetujuannya terhadap apa yang terjadi di tanah airnya, ibu pertiwi yang telah memberinya makan, mendidiknya dan mengajarinya untuk tetap selalu tegar melawan kekejaman dunia. Aku semakin kagum padanya.

Selang beberapa hari setelah aksi di depan gedung DPR, dia kembali mengejutkanku dan semakin menambah kekagumanku padanya. Dia berhasil meraih predikat mahasiswa teladan di kampusku. Bersamaan dengan itu, dia juga meraih gelar juara pertama MTQ tingkat nasional. Subhanallah!! Sungguh prestasi yang sangat membanggakan. Sempurnalah sudah sosoknya di mataku. Sosok yang selama ini aku cari, yang aku harapkan bisa menjadi imam yang baik dalam rumah tanggaku kelak, yang bisa membimbingku, yang bisa mengajari dan mendidik buah hatiku dengan penuh kasih sayang dan keteladanan. Sosok yang bisa kujadikan curahan keluh kesahku, yang bisa menemaniku meraih angan-anganku. Seorang yang… Astaghfirullah!! Apa yang kupikirkan?? Segera aku memohon ampun kepada Allah atas apa yang menimpaku.

Dan kemudian aku bingung. Mengapa aku selalu memikirkan dia?? Semuanya selalu terbayang. Suaranya, senyumnya, mata elangnya… Apa yang terjadi?? Haruskah kupungkiri hal ini??
Ya Allah, aku jatuh cinta!

***


Aku masih menikmati dan menyaksikan kisah hidupnya disertai cinta yang kian hari kian menyelubungi rongga dadaku. Kuselami kata-katanya. Aku merasa telah lama mengenalnya, menjadi bagian hidupnya melalui kisah-kisahnya. Kubuka lagi lembar berikutnya. Tiba-tiba, kutemukan secarik kertas. Sebuah surat. Berwarna merah jambu dengan tinta emas. Aku penasaran. Kuberanikan diri untuk membacanya, meskipun hati kecilku mengatakan jangan. Kutelusuri kata demi kata, huruf demi huruf. Kemudian, aku terhenyak! “Akan kukejar waktu untuk membagi cintaku padamu, adinda. Membagi rinduku yang meluap dari hari ke hari. Aku akan selalu menunggumu, cahayaku…”. Surat itu memuat tulisan tangannya, untuk seorang gadis yang dipanggilnya “Tiara”. Seseorang yang tak aku kenal. Surat itu menjelaskan kerinduan yang mendalam untuk ingin bertemu Tiara. Kerinduan yang mungkin juga cinta. Cinta sang Khairul Imam yang hanya untuk Tiara. Dan, aku???

Dadaku sesak. Tanpa kusadari, aku menangis. Wajahku basah. Airmataku berderai-derai. Derainya kemudian sanggup meretakkan hatiku. Hati yang sudah tulus mencintainya tanpa dia tahu hal itu. Hatiku luka, perih, pekat, tersayat, diselimuti mendung tebal dan hitam yang siap untuk membentuk partikel-partikel hujan yang akan membasahi hatiku. Aku tak menerima hal ini terjadi, ini tidak adil!! Egoku meninggi. Aku tak ingin membiarkan diriku ikhlas menerima ini semua. Aku tak ingin merelakan cintanya untuk dimiliki orang lain. Aku tak ingin terluka.

Aku ingin berlari, meninggalkan tempat ini sejauh mungkin. Berteriak menghadap langit yang seakan runtuh menimpaku. Mengapa harus terjadi? Aku hancur. Tersiksa oleh perasaan yang aku ciptakan sendiri. Pedih… Saat harus mengingat lagi senyumnya yang hanya dia berikan untuk Tiara, cahaya hidupnya. Bahwa ternyata aku bukanlah siapa-siapa untuk dirinya, tak pantas untuknya, tak pantas mengharapkannya… Tiba-tiba, aku merindukannya, sangat. Disertai perih menyeruak.
Aku, luka… Aku memandang gelap. Diam. Sunyi. Hitam.


***


Aku baru saja selesai mengemasi barang-barangku, dan hal itu membuat Kak Nisa heran. Kak Nisa, senior yang dulu sekolah denganku di SLTA yang sama, kini kuliah di kampus yang sama – Kampus Merah, kampus kebanggaan dan terbesar di Indonesia bagian timur – Kak Nisa adalah teman seperjuangan, juga sudah ku anggap kakak sendiri.
“Dik, kamu yakin mau cuti semester ini?”, tanyanya seraya tak lepas memandangku.
“Iya, Kak. Adik terlalu capek. Kuliah semester kemarin benar-benar melelahkan. Adik pikir, sekarang saatnya pulang kampung dulu. Adik juga rindu pada ayah dan bunda di kampung”, jawabku dengan penuh kebohongan.

Sebenarnya, aku hanya ingin menjauh dari tempat ini secepatnya, tempat yang akan menjadi saksi kebahagiaan Khairul Imam bersama Tiara Raihana, gadis yang ternyata telah dikhitbahnya. Khairul Imam bertemu Tiara saat mengikuti lomba MTQ tingkat Nasional beberapa bulan lalu. Dan Tiara adalah juara pertama untuk kategori Qariah terbaik. Mungkin hal itulah yang membuat Khairul Imam jatuh cinta pada Tiara, jatuh cinta pada suara emasnya saat melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran. Dan jika harus membandingan antara aku dan Tiara, aku semakin merasa tak pantas mengharapkan cinta Khairul Imam. Sebenarnya, saat ini aku ingin menangis, namun segera ku kuatkan hatiku. Tangis ini harus ku tahan, agar Kak Nisa tidak mengetahui apa yang terjadi padaku. Dia tidak boleh tahu hal ini.
“Apa kamu yakin dengan jawabanmu? Kamu tidak sedang berbohong kan? Kamu ingin pergi bukan karena hal lain kan?”, Kak Nisa menyerbuku dengan pertanyaannya.
“Lho, kok Kakak nanya Adik seperti itu?”
Kak Nisa kemudian meraih tanganku dan mengajakku duduk di pinggir tempat tidur kami berdua. Sekarang, kami berhadapan. Kak Nisa menatapku dalam.
“Adikku sayang, tatap mata Kakak. Jujur pada dirimu sendiri. Kamu ingin pergi karena Khairul Imam kan?”
Aku tersentak, kaget! Hal itu semakin membuat Kak Nisa yakin akan pertanyaannya.
“Dik, kita sudah lama saling kenal. Kita juga sudah lama hidup bersama, sekamar di pondokan ini. Meskipun aku bukan kakak kandungmu, tapi kakak tahu apa yang terjadi padamu, apa yang sedang kau rasakan. Selama ini, kakak hanya bertindak pura-pura tidak tahu”. Hening sejenak.
“Kakak tahu apa yang sedang kau alami, tentang perasaanmu terhadap Khairul Imam. Kakak juga tahu saat kau tidak sengaja menemukan catatan hariannya. Kakak tahu dari senyum dan kerlingan matamu saat kau bercerita tentangnya. Kamu tidak akan bisa menyembunyikan perasaan itu dari Kakak, dan kamu lupa hal itu. Kamu tidak pernah menyadari perubahan besar yang terjadi dalam dirimu sejak kau mengenal Khairul Imam. Kamu terlihat ceria dari hari ke hari. Tapi, semuanya telah berubah saat kau temukan diary bersampul hitam itu, yang ternyata milik Khairul Imam, laki-laki yang menjadi panutan seluruh aktivis dakwah di kampus kita. Dan sekarang, kau semakin terpuruk saat harus mengetahui Khairul Imam telah melamar Tiara…”

Dan, tangisku pun tumpah demi mendengar itu semua dari mulut Kak Nisa. Aku sudah tak sanggup menahan bulir-bulir yang tadinya hendak jatuh bercucuran. Kak Nisa meraihku dalam pelukannya. Aku memeluknya erat. Aku menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Kak Nisa. Hatiku remuk redam. Aku merasakan kembali luka itu. Kak Nisa turut meneteskan airmata melihatku seperti ini. Aku tak sanggup berkata apa-apa. Suaraku tercekat di tenggorokanku, perih sekali. Lama kami terdiam dalam tangis.

“Jangan terlalu larut dalam kesedihan, sayang. Kejadian ini hanyalah bagian kecil dari sejarah hidupmu. Melalui kejadian ini Allah hendak menguji, seberapa besar cintamu kepadaNya dibanding besarnya cintamu untuk Khairul Imam. Dan jika cintamu lebih cenderung terhadap makhluk ciptaanNya, maka segeralah mohon ampun padaNya. Jika memang Khairul Imam berjodoh denganmu, dia tidak akan pernah menjadi milik Tiara. Tapi, jika dia bukan jodohmu, kamu harus menerimanya karena itu semua sudah ketetapanNya. Percayalah, bahwa Allah akan memberikan yang terbaik bagi hamba-hambaNya yang beriman. Laki-laki yang baik hanya untuk perempuan yang baik. Juga sebaliknya, perempuan yang baik hanya untuk laki-laki yang baik pula. Itu janji Allah. Dan jangan lupa untuk selalu memohon petunjukNya serta terus berdoa kepadaNya, maka insyaallah, Allah akan mengabulkan permintaanmu…”
Seolah mendapat pencerahan, aku kemudian melepaskan pelukanku dari Kak Nisa. Kata-katanya benar. Sederhana, namun sanggup menyibakkan mendung yang tadinya menyelimuti hatiku. Damai menyusup di relung jiwaku, perasaan yang beberapa saat lalu tak pernah aku rasakan. Perlahan-lahan, ku bentuk lagi puing-puing semangat hidupku.
“Syukran ya, Kak atas semuanya. Kakak benar. Adik tidak boleh terus terpuruk dalam keadaan seperti ini. Kakak telah membangkitkan lagi semangatku. Adik bersyukur telah mengenal Kakak. Adik sayang Kakak”, kataku masih dengan isak namun tidak sehebat tadi.
“Kakak juga sayang sama Adik…”
Kamipun berpelukan kembali. Oh, sungguh! Dekapan yang sanggup membuatku lupa terhadap semua yang telah terjadi. Aku tiba-tiba teringat sesuatu.
“Oh ya, Kak. Adik titip ini buat Khairul Imam...”
“Apa ini?”, tanya Kak Nisa. Rupanya, ia penasaran.
“Tenang saja, Kak. Bingkisan ini isinya bukan bom, kok. Di dalam kotak ini ada diary Khairul Imam dan juga kado untuk dia dan Tiara. Adik minta tolong diserahkan saat acara walimahannya. Bilang saja, dari orang yang beberapa waktu lalu menemukan catatan hariannya dengan tidak sengaja”, kataku sambil menyerahkan bingkisan yang dibungkus kertas berwarna merah muda itu.
“Sekarang, Adik harus segera berangkat. Takut ketinggalan bus”, kataku sambil menatap Kak Nisa.
“Sebenarnya Kakak ingin kamu tetap disini, tapi ini sudah kemauanmu. Cepat kembali ya, Dik. Kakak akan sangat merindukanmu. Dan sebelum Adik pergi, Kakak minta, senyumlah satu kali saja agar Kakak yakin melepasmu, agar Kakak yakin kamu akan baik-baik saja”.
Aku pun tersenyum mendengar permintaannya. Oh, betapa ia menyayangiku…
“Senyummu manis sekali, adikku…”, ucapnya, lirih.



***


Akhirnya, kulangkahkan kaki meninggalkan kota ini, kota yang menjadi saksi bisu perihnya lukaku. Sayup, ku dengar alam mendendangkan nyanyian duka atas kepergianku. Ya. Aku akan pergi, kembali ke kampung halamanku untuk beberapa lama, agar bisa melupakan Khairul Imam. Kubiarkan harapan dan impianku pergi bersama angin sepoi yang menyibakkan jilbab hijauku. Aku yakin, Allah telah merencanakan ini semua untukku. Telah ada seseorang yang diciptakan sebagai pendamping hidupku kelak. Entah aku sudah mengenalnya, bahkan mungkin aku belum melihatnya sepanjang hidupku. Di belahan bumi manapun ia, aku akan menantinya. Dialah yang terbaik untukku.

Ya Rabb… Hamba serahkan hidupku sepenuhnya padaMu. Rezekiku, jodohku dan matiku, Engkau yang mengaturnya, hanya Engkau Yang Maha Tahu, Engkau Yang Maha Menentukan. Maka, berikanlah yang terbaik untukku, ya Allah…

***

Cinta itu, ya Allah…
Pantaskah untukku??
Dia tak pernah menyakitiku, secuilpun…
Tapi, ah…!!!
Sesungguhnya rasa ini yang menyakitiku
Yang mengagungkan keindahannya di sesak dada
Dia tak tahu apa-apa…
Pantaskah aku berharap??
Apa yang kurasakan??
Mengapa??
Perih… Pahit… Luka… Tangis…
Gerimis… Berlinang… Bungkam…
Getaran… Terdiam… Pendam…
(lagi) Tangis… Rindu… Hampa…
Membuncah!! Menyeruak!!
Salahkah aku??
Berdosakah aku??
Hadirnya…
Cintaku…
Siksaku…



*Tulisan ini pernah dimuat di PK Identitas Unhas

edisi Awal September 2008

Mari Berbagi Motivasi


MENGGAPAI KEABADIAN, MENGUKIR SEJARAH

Oleh: El Zukhrufy

“Menulis, menulis, menulis dan biarkan kata-kata mengalir, mengalir dan mengaliiiir!”. Inilah kalimat yang dinyatakan oleh sang penulis ternama, Pipiet Senja, ketika ada orang yang menanyakan tentang bagaimana agar bisa menjadi penulis yang baik dan profesional.
Pada saat saya diharuskan untuk membuat tulisan ini, jujur saya merasa terbebani karena saya sama sekali tidak pernah benar-benar menulis. Tapi, saya punya modal utama – minat yang besar dalam bidang kepenulisan, itu saja. Soal bisa menulis atau tidak urusan belakangan.


Bukankah penulis-penulis ternama juga mengalami hal yang sama?

Alasan setiap orang untuk menulis ada bermacam-macam. Ada yang ingin terkenal melalui tulisan-tulisannya, ada yang menulis karena hobi, ada yang ingin mencari nafkah dengan tulisan, ingin jadi orang yang dikenang sepanjang sejarah, jadi orang yang dikenal dahsyat luar biasa, jadi insan yang bermanfaat hingga hari akhir, jadi orang yang selalu ‘hidup’ dan masih banyak lagi. Hal-hal tersebut kurang lebih dapat mewakili pendapat-pendapat orang, apa sebenarnya yang memotivasinya dirinya untuk menulis. Tidak masalah apakah hal itu merupakan suatu hal yang menunjukkan ia terlalu ambisius, karena setiap mimpi dapat menjadi nyata bila kita sertai mimpi dan ambisi tersebut dengan penuh semangat dan optimis.

Mengapa kita harus menulis?
Saya ingin mengajak anda untuk sedikit merenungi kalimat berikut:
“Kita bekerja membuat sejarah yang berubah dari masa ke masa. Kita bekerja menciptakan sesuatu yang baru. Dan bila upaya itu selesai, kita sudah harus siap dengan hal baru lainnya. Langkah kita adalah bergerak kedepan, bukan menunggu masa depan menghampiri kita…”
Kalimat bijak di atas merupakan kalimat yang keluas dari mulut seorang Syeikh yang bernama Syeikh Maktoum bin Rasyid Al Maktoum, seseorang yang telah mengubah Uni Emirat Arab dan Dubai menjadi kota Metropolitan dalam waktu kurang dari 20 tahun. Atas prinsipnya ini, beliau akhirnya dapat merubah negaranya menjadi kota metropolitan, dengan membuat gedung tinggi di tengah laut, membuat simulasi salju di dalam ruangan (bayangkan, salju berada di negara gurun). Hal itu semua hanya dilakukan dalam waktu yang singkat, kurang dari 20 tahun! Sebuah prestasi yang luar biasa bukan untuk seorang muslim di zaman seperti ini??

Lalu, apa hubungan kisah tersebut dengan menulis? Tentu ada. Setidaknya kita sebagai seorang muslim bercermin dari beliau, bahwa kita harus membuat sejarah baru, prestasi baru yang bisa mengguncang dunia. Tidakkah kita ingin seperti beliau? Membuat sejarah yang membanggakan, untuk keluarga, negara dan untuk diri sendiri. Sejarah tidak hanya diukir dengan membuat sayap pesawat terbang seperti yang dilakukan oleh Bapak B.J. Habibie, melakukan hal yang seperti Syeikh Maktoum bin Rasyid Al Maktoum lakukan, Christoper Colombus yang berhasil menemukan benua Amerika, Albert Einstein dengan teori relativitasnya, atau Ibnu Sina (orang Eropa menyebut beliau Avicenna) dengan penemuan dalam bidang kedokteran atau siapapun yang telah mengukir sejarah yang luar biasa bagi dunia.

Saya tidak bermaksud untuk mendorong Anda untuk menjadi seperti mereka. Sama sekali tidak. Saya hanya berharap Anda terinspirasi dengan hal-hal di atas. Ukirlah sejarah melalui tulisan. Jika kamu ingin hidup melampaui usiamu, maka menulislah…Melalui tulisan, kita abadi. Nama kita akan selalu dikenang oleh generasi mendatang. Kita akan mengukir sejarah baru.

Berkarya melalui tulisan, menurut saya merupakan amal jariyah. Karena tulisan, nama seseorang dapat dikenang sepanjang masa. Misalnya saja tokoh-tokoh sejarah yang telah banyak menulis hal-hal yang berkenaan dengan situasi pada masanya (seperti Sayyid Quthub, Buya HAMKA, Pramoedia Ananta Toer, dan masih banyak lagi), yang bermanfaat untuk generasi selanjutnya, bahkan tulisan-tulisan itu dijadikan sebagai referensi untuk penulisan buku-buku berikutnya. Alangkah bahagianya, jika nama kita selalu dikenang sepanjang masa karena kebaikan yang kita lakukan, bukan karena keburukan yang ada pada diri kita.



Apa yang membuat kita “takut” menulis?
Seseorang ditanyakan mengapa ia mau belajar menulis? Jawabannya, lumayan mengejutkan, “Saya tidak ingin menjadi penulis hebat. Saya cuma ingin bisa menulis dengan lancar, tulisan enak dibaca dan disukai oleh yang membaca. Hanya sesimpel itu, tapi jauh sekali untuk bisa sampe kesana”.

Sebenarnya, kalau dipikir-pikir, ketidakmampuan dan ketidakberanian kita untuk menulis berasal dari diri kita sendiri, yaitu ketakutan bahwa tulisan kita akan dicela habis-habisan oleh orang lain. Bijaknya, jika kita yakin akan diri dan kemampuan kita, pasti kita akan bisa menulis. Takut sebelum berperang adalah sifat pengecut. Bangunlah dengan banyaknya kritikan, bukan dengan banyaknya sanjungan dan pujian dari orang lain karena kita tidak tahu sebenarnya apa kelemahan kita tanpa kritikan. Semua yang kita lakukan belum tentu benarm itulah fungsinya kritikan. Karena itu, kita harus menyiapkan mental yang kuat untuk jadi seorang penulis terutama bagi pemula. Istilahnya, kita harus siap tahan banting.

Lagi-lagi, saya ingin meengajak anda untuk menyimak kalimat bijak berikut ini:

“Keyakinan yang kuat terhadap apa yang kita kerjakan akan memberikan kekuatan luar biasa untuk mencapai kegagalan” (Sochiro Honda).
Kalimat tersebut adalah kalimat yang kemudian membakar semangat Sochiro Honda ketika akan merintis usaha dalam bidang sepeda motor. Dan kita bisa lihat hasilnya sekarang. Secara tidak langsung, meskipun beliau sendiri tidak melihat hasil keringat dan kerja kerasnya dahulu, beliau telah berhasil mewujudkan mimpinya. Meskipun untuk mencapai hal ini, beliau harus mendapatkan perlakuan yang tidak bersahabat dari orang-orang sekitarnya. Menulis juga seperti itu. Kita akan mengalami jatuh bangun terlebih dahulu. Jika kita sudah yakin akan berhasil, pasti kita bisa! Benar tidak?

Lalu, bagaimana caranya agar bisa menulis?

Menurut Andrias Harefa (penulis buku-buku best seller khususnya mengenai Multi Level Marketing), mengarang bisa gampang kalau anda membiasakan diri untuk membaca. Lebih jelasnya, beliau berpendapat bahwa membaca adalah “makanan” pengarang. Jadi, jika kita ingin menjadi pengarang professional, maka kita harus rajin-rajin membaca. Baca apa saja, lalu perhatikan bagaimana alur tulisan itu. Kemudian, cobalah untuk sedikit meniru. Tentu saja bukan hanya meniru, namun juga memodifikasinya. Itulah kreatifitas. Seperti yang diajarkan oleh Mardjuki (seorang penulis kreatif yang cukup dikenal oleh para wartawan di Yogyakarta, saat melatih Andrias Harefa menulis berita dan menerbitkan media alternatif di tahun 1987), niteni, nirokke, nambahi yang jika diartikan (bahasa Jawa) dalam bahasa Indonesia berarti mengamati, meniru dan menambahi. Bukankah jika sudah begitu, menulis bisa menjadi gampang?

Menulislah apa yang anda rasakan dan apa yang anda alami saat itu. Apakah kita sedih, gembira, bahagia, ataukah merana. Uraikan. Tuangkan saja melalui tulisan. Biarkan kata-kata tersebut mengalir bagaikan air, seperti yang dikatakan Pipiet Senja. Ungkapkan semua. Kelak, jika kita melihat kembali tulisan kita, kita akan terkejut bahwa ternyata kita bisa menulis.
Practice makes perfect. Menulis butuh latihan, yang kontinyu tentunya. Jika kita terus berlatih, maka kita tidak akan lagi menemukan kesulitan dalam menulis. Mulailah dengan menulis puisi, misalnya. Puisi tentang apa yang kita rasakan, apa yang kita alami. Selanjutnya, usahakan untuk mengembangkan puisi tersebut menjadi sebuah cerita. Tidak perlu memilih kata-kata yang seperti penulis-penulis professional gunakan. Pilihlah kata-kata yang sesuai dengan hati nurani kita, karena hal tersebut kemudian akan menunjukkan ciri khas kita.


Menulis bisa dilakukan oleh siapapun, kapanpun dan dimanapun. Jika ingin, para petani pun bisa menulis. Misalnya saja petani tersebut menuangkan idenya mengenai bagaimana cara bertani yang baik dan mengatasi hama yang menyerang padi. Bukankah petani tersebut telah beramal? Lalu, jika petani saja bias beramal lewat tulisan, mengapa kita tidak?

“Menulislah yang bermanfaat, jangan sampai tulisan kita menyesatkan ummat. Ingatlah, menulis sebuah amanah Allah. Kelak di akhirat tulisan-tulisan kita akan minta tanggung jawab!” (Pipiet Senja)
Nah, sekarang tanyakan pada diri anda, apakah anda benar-benar tidak bisa menulis??

Wallahu a’lam bish shawab…