Tampilkan postingan dengan label sajak GJ. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sajak GJ. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Agustus 2011

Diam-diam, matamu memandang matanya yang diam-diam memandang mataku

Aku tak seperti kamu, diam-diam memandang matanya atau matamu. Tapi aku tahu kau diam-diam melakukannya, karena beberapa saat setelah itu terjadi, kau dengan (pura-pura) semangat mendendangkan beberapa nada yang terlalu jelas maknanya: CEMBURU!

(Tapi kau tak tahu bahwa aku berhasil diam-diam memandang matamu yang diam-diam memandang matanya. Ah, sesungguhnya kita tak pernah bisa selamat dari pandangan-pandangan!!)

Jumat, 24 Juni 2011

Kita menertawai hidup



Kita terluka.

Kita sedang dalam keadaan terhimpit. Kita merasa tak (bisa) hidup.

Kita tahu kondisi ini tak akan membuat airmata untuk terseka kerah baju kita. Itu tak wajar. Kita tak boleh begitu!

Tapi.

Kenyataan seperti menindih kita ke sudut dunia yang membuat kita tak mampu menghirup udara.

Sisi lain begitu berbeda. Ada piring dan gelas berdentangan menandakan pesta. Sedang disini hanya diam. Raga memeluk lutut menahan ia yang kembali membeku.

Jangan! Airpadamata hanya akan membuat lukapadahati.

Tertawalah!


Bukankah oranglain tak perlu tahu tentang [hati]kita?

Selasa, 07 Juni 2011

Tentang seseorang berbaju merah





Aku pernah menemuinya pada sebuah rumah yang berjejakkan kaki-kaki tak beralas.

Disana tempat kami selalu bertemu. Tak bersuara. Tak menyapa.

Kami tak tahu nama kami siapa. Tapi, kami merasa sama-sama tahu.

Dia tahu aku terlalu sibuk kesana-kemari. Aku tahu dia akan selalu disitu.

Sekarang menjadi berbeda.

Kenapa?

Dia memilih hitam. Ya. Benar-benar hitam. Dia duduk, lalu berjalan, lalu berteriak di malam-malam bisu. Dia berubah! Siapa yang mengubahnya?

Aku? Masih berkutat dengan merah, hijau, dan sedikit putih.

Tapi diam-diam aku berharap, semoga hitam itu tidak membuatnya benar-benar berbeda.

Aku ingin dia juga sama sepertiku: berkasih-kasih dengan Tuhan disaat dunia terlelap. Juga tidak menyentuh sesuatu yang bukan miliknya.

…………..
Aku melihatnya disana. Dia tengah merangkai wacana yang entah sampai kapan akan terwujud. Bersama beribu bendera hitam-putih yang lain.

………….
Kami sama-sama menyukai anime Naruto. Sepertinya dia terpesona oleh Gaara. Sementara aku setengah mati mengagumi Kakashi.

…………..
Satu lagi. Kami sama-sama menyukai baju merah!

Seseorang yang mirip denganmu.



Aku melihatmu. Ya. Benar-benar melihatmu.

Kau jauh. Tidak disini. Tapi aku melihatmu.

Ini bukan mimpi. Ragamu tepat berada di depanku. Tidak lebih dari tiga depa.

Tapi kau dekat. Tapi kau jauh.

Ah, aku bingung!

Senyummu begitu nyata. Tapi itu bukan kamu. Lalu aku mengingatmu.

Aku ingin mengabadikan senyum itu. Agar besok-besok dapat kulihat lagi. Sebelum (entah kapan) kau pergi.

Kau dekat. Kau jauh. Kau di depanku. Kau…

Sudah berapa lama kita tak bertemu?

Minggu, 27 Februari 2011

AMBIGU

“Hei, tentang apa lagi ini?!”
“Membingungkan! Tak pernah jelas!”
“Jadi, menurutmu puisi butuh penjelasan?”

Karena beginilah cinta kita, Sayang. Nikmati saja peranmu.

Sabtu, 29 Januari 2011

Berkali-kali.


Kau menghindariku.

Berkali-kali.

Tapi, sejak itu pula kau berkali-kali merengek pada hujan. Berkali-kali kau mengadu pada malam. Berkali-kali kau meringkuk di tiang jendela. Berkali-kali kau melukis abstrak di dinding pintu. Berkali-kali kau menyapa lorong-lorong menuju rumahmu. Berkali-kali kau gelisah. Berkali-kali kau teriak. Berkali-kali kau merintih, luka! Berkali-kali kau…

Berkali-kali kau berdoa pada Tuhan-mu.

“Izinkan aku bertemu senyumnya”

:: tulisan ini untukmu ::

Sabtu, 13 November 2010

Untuk Angin (Bawa Saja...)



Apa yang kupikirkan??


ah, kenapa kau dan kamu selalu ingin tahu?

ini bukan tentang apa-apa. bukan tentang langit yang selalu memberi warna pada bumi (ataukah bumi yang mewarnai?)


mungkin kau dan kamu berkata aku seperti daun kering yang tak bisa berontak jika angin melayangkan tangannya, membelaiku..


entah, kemana aku akan pergi...


rupanya, benar, aku tak pernah bisa memiliki arah. seperti daun itu.

arah hidup ku pun aku tak pernah tahu...

benar, aku belum dewasa.


(maaf, aku masih belum bisa percaya cintamu, Sayang...)

Minggu, 26 September 2010

Seseorang Yang (Pernah) Ada




Ketika dua bibir membisu, cinta kita menjadi gagu
Tak ada suara atau tatapan malam ini

Senin, 02 Agustus 2010

KAMU DAN...






Siapapun kamu
dengan segala apa dan mengapa: alasan
terserah kamu, maumu --aku tak akan bertanya
dengan cara apapun kamu mendatangiku, dengan cara bagaimanapun kamu memandangku, dengan desahan selembut apapun kamu memanggilku, dengan kain apapun kamu menyentuhku
sejauh apapun kamu menjangkauku, selama apapun kamu ada dalam membersamai hidupku dengan rasamu: dendam, benci atau apa
kamu boleh ada dalam nadi urat leherku
kamu boleh ada dalam setiap udara yang kuhembus
kamu boleh ada dalam detikdetak jantungku
kamu boleh ada dalam delapan penjuru mataanginku: menyelinap atau terang-terangan pada audioku
kamu boleh muncul dalam setiap mimpiku, bahkan dengan wajah serupa hantu yang membuatku tak bisa memejam mata lagi sampai pagi
aku tak akan apa-apa dengan pada tidak-apa-apa yang kamu ciptakan
tapi, tolong...
sebelum aku mati
SEBELUM AKU MATI: izinkan aku menyebut nama Tuhanku di akhir hidupku, izinkan aku melihat senyum kedua orangtuaku, izinkan aku melihat abangku menikah, izinkan aku melihat abang kecilku melangkah lagi, izinkan aku melihat keponakanku lahir (mungkin tiga bulan lagi), izinkan aku membayar semua utangku, izinkan aku melihat ayahku pulang dari tanah suci: memakai kopiah putih ciri khas Bapak Haji, izinkan aku mati dalam senyum: menunggangi kuda atau menarik busur panah di daerah tandus sana
AKU INGIN MATI DENGAN SENYUM MENYEBUT NAMA TUHAN!
tidak seperti hari ini, menduga-duga rasa ini adalah karena kamu atau karib-karibmu: bagiku, hanya orang bodoh yang percaya hal seperti itu (ah, mungkin aku memang salah satunya)
***

aku tak ingin tahu dimana kamu sekarang, apa yang kamu lakukan di belakangku selama ini
bahkan aku akan dengan rela mengatakan "Ya" jika kamu bertanya (kenapa tak kamu lakukan?)
aku akan pasrah menjadi bonekamu, seumur hidupku
***

mungkin kamu melakukan ini karena aku tanpa sengaja telah memakimu, mengutukmu, menggerutui "ada"mu di sampingku
mungkin kamu melakukan ini karena aku telah ceroboh menawarkan kesempatan
tapi percayalah
AKU TAK PERNAH TAHU SIAPA KAMU...[*]


-EZ. Sesaat setelah sakitku tak tertahan seperti akhir tahun lalu, Agustus 2010-

Kamis, 01 Juli 2010

1 Juli 2010



Sudahlah!

Jika kau memang sayang padaku, katakan saja

Tak perlu kau menyebut namaku pada bumibumi singgah: menceritakan tentang semua hingga membuatku hampir hilang hati