Tampilkan postingan dengan label soliloquy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label soliloquy. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 September 2012

Mengembara Sebuah Blog

Malam ini saya menjelajahi sebuah blog. Sebenarnya sudah lama saya terus mengikuti isinya. Bahkan tulisan-tulisan (yang saya baca kembali malam ini) pernah saya tuntaskan tahunan lalu. Tapi...

Kali ini sungguh berbeda. 
Saya terisak.
Saya merinding.
Saya tak tahan ingin menangis.

Saya...

Seandainya sekarang saya tidak sedang berada di warnet, sudah pasti saya akan bercucuran airmata. 

ToT


Saya rindu pemilik blog itu... 

Jumat, 30 Maret 2012

facebook yang malang

well, hari ini saya merasa sedikit tenang dengan tidak memiliki akun facebook.

untuk sementara,

atau waktu yang lama...

Sabtu, 17 Maret 2012

Jika saya mati…

Sore kemarin, saya berkumpul dengan beberapa orang hebat. Orang-orang itu mungkin sudah kenyang (ah, atau belum pernah kenyang) berdiskusi
Dari situ saya menduga, mereka (mungkin termasuk saya) akan melakukan sesuatu yang sangat besar, sangat besar! Ini tentang kehidupan banyak orang. Itupun, kalau yang mereka katakan adalah sesuatu yang benar-benar serius. (Saya katakan “mereka”, karena saya hanya pendengar, sama sekali tak pernah berbicara. Sayangnya, saya terlanjur menulis nama saya, lengkap dengan nomor hape dan email)
Selama saya berada disitu, saya berpikir, siapakah orang yang harus saya percaya dalam keadaan penuh konspirasi dan kebohongan? Saya bahkan berpikir, orang yang ada di seberang saya, bisa saja adalah dalang utama dari kekacauan yang terjadi belakangan ini. Saya tidak bisa sepenuhnya percaya padanya.
Dan tiba-tiba saya membayangkan bahwa saya mati dengan cara yang tidak saya (dan orang-orang lain) inginkan.
Ya. Ya. Ya. Saya punya keinginan tentang bagaimana cara saya mati.
Saya tidak ingin mati terbunuh: ditembak, ditebas, dipanah, ditabrak… (saya tidak rela mati disebabkan bukan kesalahan saya!)
Saya tidak ingin mati kecelakaan
Saya tidak ingin mati bunuh diri
Saya tidak ingin mati dalam keadaan diculik
Saya tidak ingin mati muda –saya ingin mati ketika sudah memiliki cucu, dan keluarga saya bahagia
Saya tidak ingin mati meninggalkan hutang
Saya tidak ingin mati dalam keadaan berbohong
Saya tidak ingin mati ketika saya melakukan dosa
 Saya tidak ingin mati konyol!
….
Saya ingin mati dalam keadaan mengingat Tuhan saya sepenuhnya. Dan alangkah bahagianya saya jika ketika itu tiba, saya melihat wajah-wajah keluarga yang saya cintai…
Jika Tuhan benar-benar memeluk mimpi-mimpi, saya akan terus memimpikan mimpi ini.

~mks.14maret2012~

Senin, 23 Januari 2012

Ransel hitam, puisi dan (ehm…) tahun 2010

Maret 2010, sehari sebelum atau sesudahnya…


Seseorang tiba-tiba datang. Melewati sebuah pintu, mengucapkan salam. Dengan ransel hitam. Dia memakai sejenis aksesoris yang sangat khas untuk orang-orang sejenisnya. Ya, ya. Dia memakai baju hitam, tentu, warna kesukaanku. Dia datang, berbicara seadanya sambil memperlihatkan beberapa gambar yang sangat memukau, tapi juga menggelikan. Bahkan ada segelintir orang yang berkata, “Ih, kok gitu, sih?”. Tapi dia tak peduli. Aku sebenarnya tidak terlalu suka dengan kehadirannya. Soalnya dia sedikit slenge’an.

Sepulangnya dari tempat itu, sebagai tuan rumah yang baik, aku mengirimkan salam terima kasih padanya karena telah berkenan hadir pada tempat yang tadi. Dan dia ternyata sangat ramah, sambil berkata, “Terima kasih untuk segelas teh yang kalian suguhkan”. Aku terharu karena menyadari, dia benar-benar baik.


^^^
Maret 2010, sehari sebelum atau sesudahnya…

Aku diwajibkan menulis sebuah puisi untuk dibacakan di depan orang banyak. Aku bingung. Sampai lewat pukul dua belas malam, belum satu katapun aku tulis, sementara puisi itu akan kubacakan pukul sembilan pagi. Aduh, aku kewalahan! Akhirnya, dengan segala kemarahan yang ada ―yang sudah setengah mati kukumpulkan, puisi itu tuntas ditulis. Esoknya, pagi-pagi pukul tujuh, aku berlatih asal-asalan bersama seorang teman untuk membacakannya. Seorang partner puisi yang baik.

Setibanya di panggung, aku gugup luar biasa! Ini adalah kali pertama aku membacakan puisi, di depan orang banyak pula! Tak tanggung-tanggung, jumlah orang-orang itu sekitar seribu-an.

Entah, saat itu dia ada disana atau tidak, akhirnya puisi itu yang membuatku dikenal. Tapi sepertinya aku hampir bisa memastikan, bahwa dia tak ada disana, menyaksikanku membacakan puisi itu. Toh, aku tak peduli saat itu.


^^^
November 2011, tanggal 25
Aku kira kejadian-kejadian sederhana seperti itu tak akan teringat lagi. Tapi hari ini, aku terpaksa membuka disket ingatan itu.

Lalu apa hubungannya ransel hitam dengan puisi? Sama sekali tidak ada!

Memang tidak memiliki hubungan apa-apa. Cuma beberapa waktu lalu, aku selalu ingin mencoba mengingat satu hal: tepatnya tanggal berapa aku mengenalmu. Dan setelah kuingat-ingat, rupanya puisi itu bisa membantuku mengingatmu. :)


^^^
Ya. Terima kasih untuk sebuah puisi. Terima kasih untuk senyuman yang kau berikan pada awal kita bertemu. Terima kasih untuk tahun 2010. Terima kasih untuk sebuah ruangan dan sebuah cahaya. 

taken from: here

Selasa, 18 Oktober 2011

Ya. Ya. Ya.

Cuma mau bilang, saya sedang berada di kampung halaman sekarang.

Dan saya bahagia. 

Meski jarang bermain HP dan internet. :D

Selasa, 27 September 2011

Pulang untuk apa?

 

Aku mencintai hidupku. Aku mencintai bagaimana cara hidup membuatku merasakan berbagai rasa, bahkan dalam waktu yang bersamaan. Aku suka hidupku yang penuh dengan kejutan.

Untuk beberapa waktu, aku tak berencana untuk kembali pulang. Ada banyak hal yang harus kulakukan. Masih ada banyak “pekerjaan” yang harus diselesaikan. Tapi hidupku memang memberi cara berbeda untuk sebuah “kejutan”. Ya. Dan akhirnya, dalam waktu dekat, aku akan (baca: harus) pulang. Meski hanya untuk beberapa hari saja.

Banyak yang bertanya, untuk apa pulang? Mungkin pertanyaan itu berwujud karena terkesan mendadak. Aku pun tak menyangka, bahwa aku harus “kesana” lagi. Maka, jawabanku “Aku hanya ingin pulang saja”.
Banyak spekulasi, yang tak sepenuhnya aku suka. Banyak yang menduga, untuk apa “kepulangan” itu. “Aku ingin bertemu seseorang,” kataku. “Ciyeee, siapa nih?” Ya. Berbagai “spekulasi” muncul.

Haruskah dijawab? Haruskah kau tahu?

Aku sebenarnya tak ingin pulang. Tapi hidup kembali memberikanku kejutan. Aku sebenarnya tak ingin mencatat angka “4” untuk kembali ke kampung halaman. Jika perlu, hanya “2” atau “3”. “4” terlalu banyak, terlalu sering.

Lalu, pulang untuk apa?

Aku pulang kali ini, untuk bertemu seseorang. Ia yang sangat berharga untuk hidupku. Ia berencana akan pergi jauh. Dan kepergian ini bagiku terlalu mendadak. Ini kali pertama ia akan pergi jauh, sangat jauh, untuk waktu yang lama. Meski saat ini kami telah terbiasa untuk berjauhan, tapi untuk kali ini, aku merasa jarak yang akan kami miliki (sesaat lagi) terlampau jauh. Dan sebelum ia pergi, aku ingin melihatnya. Aku ingin menitipkan beberapa harapan, meminta maaf, mengatakan bahwa aku menyayanginya, dan aku akan sangat merindukannya lebih dari kapanpun selama ini. Aku ingin mengatakan padanyan beberapa kalimat yang tak pernah aku ucapkan selama ini, selama aku menyadari bahwa ia adalah lelaki terbaik. Betapa beruntungnya perempuan yang memilikinya. Dan perempuan itu, aku.

Alasan satu-satunya adalah hal yang aku sebut di atas. Tapi jika diizinkan untuk menambah alasan dan mengurutkannya, maka masih ada alasan lain. Ya. Agar aku tak pulang hanya untuk satu hal saja, maka alasan selanjutnya adalah harus penting juga: membimbing (baca: memaksa) seseorang untuk segera menikah. Ini harus kulakukan. Karena aku terlampau khawatir dengan hidupnya yang akhir-akhir ini. Bagiku ini beban. Jika mungkin, maka hal ini harus terwujud, sebelum hal-hal buruk yang kubayangkan terjadi. Semoga tidak.

Alasan lain?

Ada sesuatu yang harus kujelaskan. Tentang beberapa rencana. Tentang “murid-murid baru” yang kumiliki, mereka yang bercita-cita melahirkan sebuah buku. Tentang satu tahun yang ingin aku lalui di bumi lain. Tentang pandangan-pandangan hidup. Tentang keinginan bertahan. Tentang bertarung sendirian untuk sebuah perlawanan. Tentang sebuah cerita yang akan dirangkai.

Semoga saat pulang, semuanya sempat terbahasakan. Semoga aku tak bisu.

Sampai jumpa! Kita tak akan pernah tahu, kapan kita akan bertemu lagi. Maka aku tak bisa menjanjikan apapun.


Sabtu, 27 Agustus 2011

New!

Hullla..! 

Kawan bloggers, apa kabar?
Alhamdulillah, sudah memasuki hari-hari terakhir Ramadhan. Nah, saya malah sibuk utak-atik blog ini. Dan akhirnya, jadilah yang seperti ini. 

Sebenarnya, masih belum puas dengan template baru ini. Makanya, pasca lebaran, insyaallah bakal diganti lagi. #hedeuh!

Happy reading! Happy blogwalking! :D

Sabtu, 23 Juli 2011

Tentang ketidakinginan karena sebuah jika



Kau harus membuka hati sebelum membaca ini, agar kau mengerti.

Kehidupan adalah suatu perjalanan yang semua manusia tahu bagaimana alurnya. Secara umum, sebuah kehidupan beralur seperti ini: bayi – anak – remaja – dewasa – tua – mati.

Di kehidupan ini, ada beberapa keinginan yang semua manusia menginginkannya: tetap hidup atau tetap muda.

Namun, ada keinginan yang banyak diinginkan manusia, tapi ada juga yang tidak menginginkannya. Misalnya, menjadi kaya. Hal serupa ini yang akan saya bicarakan kali ini.

Seperti menjadi kaya, ada sebuah masa dalam hidup yang tidak diinginkan semua manusia yang telah pandai berpikir. Jika memakai ideologi semesta, ketidakinginan pada sesuatu ini adalah sebuah ketidakwajaran. Tapi, adalah sebuah kewajaran juga jika beberapa manusia tidak menempuh jalan ini karena manusia diperkaya dengan anugerah “memilih” dalam hidup.

Keinginan yang saya maksud ini adalah sebuah tahap yang memerlukan (bahkan mengharuskan) beberapa syarat bagi siapapun yang menginginkannya. Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, jika memakai ideologi semesta, keinginan ini adalah sebuah kewajaran (bahkan keharusan). Maka berbondong-bondong manusia akan berusaha meraih keinginan itu (dengan begitu banyak persyaratan ini dan itu). Dan betapa mengagetkan, bahwa sebagian manusia akan ikhlas melakukan bunuh diri jika keinginan ini tidak bisa mereka raih. Padahal manusia-manusia itu meyakini ideologi yang saya maksud semesta.

Saya sebagai penganut ideologi semesta, percaya bahwa keinginan ini adalah sesuatu yang harus dilalui dengan perjuangan.

Tapi…

Seperti judul tulisan ini dan di salah satu paragrafnya, saya tidak akan menginginkan sesuatu ini, karena saya manusia yang mempunyai anugrah ke-berhak-an untuk “memilih”. Hal ini tidak termasuk sebuah ketidakwajaran yang dimaksud oleh para penganut ideologi semesta. Bukan! Saya tidak ingin (karena sebuah jika). Itu saja.

Bukankah saya katakan bahwa sesuatu ini memiliki beberapa persyaratan? Nah, salah satu syaratnya adalah: keinginan ini harus diraih bersama dan/atau dengan manusia lainnya. Keinginan ini adalah sebuah produk yang tak bisa independen, tak bisa berdiri sendiri. Ya.

Maka dari itu, saya kemudian tidak menginginkannya (lagi-lagi, karena sebuah jika).

Jika manusia yang dimaksud untuk meraih keinginan saya itu adalah kau, maka saya tidak akan merugikan kau. Karena “jika” yang saya maksud itu (jikapun–semoga tidak) terjadi, justru akan membuat kau kecewa, sangat kecewa. Dan saya tidak ingin mengecewakan siapapun.  Apalagi kau.

Tapi, jika “jika” yang dimaksud tidak terjadi, bukankah jika saat itu terjadi, maka saya dan kau adalah pribadi yang berdaulat bahwa kita adalah manusia yang paling bahagia di dunia dengan raut muka penuh bunga-bunga?

@@@ A’s @@@

Pagi ini (dan berlanjut malam harinya), saya tiba-tiba memikirkan ini. Ya. Sebaiknya saya memang tak harus memiliki keinginan seperti ini, jika “jika” yang saya maksud memang benar adanya.

Jika kau tidak mengerti tentang apa yang saya tulis, setidaknya saya bisa menjadi lebih tenang, karena kau tidak akan menganggap ini adalah sebuah ketidakwajaran seperti para penganut ideology semesta. Kau mungkin justru akan berkata padaku, “Tabahlah!”
_____________________________________________________________________________________
[Sampai bertemu pada sebuah kepastian, Cinta!]


**Hasan Cakep, 23/7/11**

Jumat, 08 Juli 2011

One. Just One.

Ehm!
 
Lagi gak pengen basa-basi (lagian, kan, gak enak kalo saya bau basi)

Cuma pengen bilang... (Ya udah, Tun, bilang aja...)
 
Errr... Emmm... Kasih tahu gak ya?? (Ta' jitak nih lama-lama!)
 
 
Jangan gitu, dong...
 
Cuma pengen bilang:
 
 
 
Aku C-I-N-T-A kalian semua...
 
 
 
(Huh, dari tadi, kek. Aku juga cinta kamu, kok, Tun)


Makasih ya, udah mau jadi temanku...


Rabu, 29 Juni 2011

Jam hidup

Gambar diperoleh dari Om Google


“Jam biologis saya itu berbeda dengan orang lain. Jadi, jika ingin twit-nya segera saya balas, silakan kirim pada jam-jam tersebut. Pasti kalian akan segera mendapat balasan dari saya. Karena pagi sampai jam dua belas biasanya saya tidur.”

Itu kata-kata yang diucapkan Trinity, penulis The Naked Traveler, pada rangkaian acara Makassar Writers International Festival, beberapa hari lalu, di Museum Kota Makassar.


Nah, saya tidak akan membahas tentang Trinity atau buku best seller-nya (yang sepertinya tak pernah saya lihat di toko-toko buku). Saya hanya tertarik dengan kata “jam biologis” yang dia katakan.

Jam biologis? Saya tidak tahu pasti apa definisinya. Hanya yang saya pahami, jam biologis itu mengacu pada saat-saat produktif seseorang, atau bisa berarti jam kerja (ngantor, kerja, dsb). Itu yang saya pahami. Saya pribadi lebih suka menyebut istilah itu dengan “jam hidup”.

Jam hidup bagi saya adalah jam-jam dimana akhir-akhir ini saya meninggalkan kamar/pondokan untuk berhubungan dengan dunia luar. Istilahnya, jam hidup adalah jam keluar rumah. Nah, beberapa waktu terakhir, jam hidup ini sangat tak menentu, tapi seperti membentuk pola.

Setelah saya pikir-pikir, ternyata jam hidup saya sangat tidak “manusiawi” (tapi sangat menggambarkan kehidupan mahasiswa tingkat akhir yang sama sekali tak terganggu dengan kata-kata, “Kapan wisuda?” atau “Skripsimu bagaimana?”). Kurang lebih, beginilah gambaran kehidupan saya:

04.20 Wita = Bangun. Mandi. Shalat. Nyuci (kalau ada)
06.05 Wita = Lari pagi. Keliling setengah kampus / main basket
07.45 Wita = Sarapan. Nulis/OL. Beres-beres kamar. Nonton sambil mikirin skripsi #eh
14.02 Wita = Tidur! #astaga
16.33 Wita = Jalan-jalan, terserah kemana. *JAM HIDUP*
21.00 Wita = Kembali ke pondokan. Nulis/OL (lagi). Tidur.


That’s it! Jadi, Kawan, ternyata hidup saya ya, hanya beberapa jam itu. What a bad life! Kemarin, saat jam hidup saya tiba, si Mas Penjual Rujak yang bukan langganan saya menegur.

“Mau kemana?”

“Ngampus” Maksudnya, nongkrong gak jelas di kampus.

“Ciyee, rajin banget sih. Libur-libur gini masih ngampus aja. Eh, tapi emang kuliahnya sore ya?”

“….” Nyengir cakep. Si ThoMas ini gak tahu aja kalau saya cuma ada janji dengan teman-teman.

Hhhhhh! *sigh
Well, beginilah hidup saya. Tapi secepatnya, saya akan mengubahnya, janji!
Saya harus SARJANA tahun iniiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!!!!!! *teriak gak jelas pada dunia


Jumat, 24 Juni 2011

Kita menertawai hidup



Kita terluka.

Kita sedang dalam keadaan terhimpit. Kita merasa tak (bisa) hidup.

Kita tahu kondisi ini tak akan membuat airmata untuk terseka kerah baju kita. Itu tak wajar. Kita tak boleh begitu!

Tapi.

Kenyataan seperti menindih kita ke sudut dunia yang membuat kita tak mampu menghirup udara.

Sisi lain begitu berbeda. Ada piring dan gelas berdentangan menandakan pesta. Sedang disini hanya diam. Raga memeluk lutut menahan ia yang kembali membeku.

Jangan! Airpadamata hanya akan membuat lukapadahati.

Tertawalah!


Bukankah oranglain tak perlu tahu tentang [hati]kita?