Tampilkan postingan dengan label story in lifes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label story in lifes. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 September 2012

Mengembara Sebuah Blog

Malam ini saya menjelajahi sebuah blog. Sebenarnya sudah lama saya terus mengikuti isinya. Bahkan tulisan-tulisan (yang saya baca kembali malam ini) pernah saya tuntaskan tahunan lalu. Tapi...

Kali ini sungguh berbeda. 
Saya terisak.
Saya merinding.
Saya tak tahan ingin menangis.

Saya...

Seandainya sekarang saya tidak sedang berada di warnet, sudah pasti saya akan bercucuran airmata. 

ToT


Saya rindu pemilik blog itu... 

Rabu, 25 April 2012

Kenalkan, namanya Unta

Beberapa waktu lalu saya berbincang-bincang dengan dia, tanpa tatap muka. Lumayan lama kami saling bertukar kata-kata singkat. Meski hal demikian itu hanya sesekali terjadi (oh, well, memang sangat jarang terjadi).

Saat itu kami sama-sama sedang dalam kondisi santai. Mungkin saja.

Saya benar-benar mengenal dia (maksud saya, mengetahui namanya) lebih dari dua tahun lalu. Tapi saya tetap saja jaraaaanngg sekali bertemu dengannya. Dan saya tidak memusingi itu.

Lalu belum genap setahun lalu, saya bertemu dia lagi. Kali ini saya lebih peduli dengannya. Saya mengajaknya bicara seolah telah lama mengenalnya. Saya berusaha menaruh minat yang tinggi pada hal yang dia sukai. Saya berpura-pura. Agar dia tak kecewa.

Beberapa bulan setelah itu, saya bertemu dia lagi. Sebenarnya saya tidak berharap itu. Tapi Tuhan Menginginkan. Mungkin untuk membuat kami sama-sama tersenyum. Atau membuat kami berpikir dan mengingat apa yang telah kami lewati. Saya tersenyum melihat wajahnya yang lucu. Dia tersenyum melihat senyum saya. Sepertinya kami sama-sama senang. Kami masih menyimpan kenangan saat itu.

Nah, dalam kurun dua tahun lebih, kami hanya bertemu sekian kali. Tapi ada sesuatu yang tidak beres kemudian…

“Itulah cara terbaik yang bisa dia lakukan untukmu. Sebaiknya kamu menahan diri dari rasa ingin tahu…” kata Abang.

Suatu saat, dia berdoa untuk saya. Saya mengaminkan. Saya suka dengan doa itu. Membayangkan bahwa dia berharap untuk saya seperti itu (dengan sedikit senyuman), membuat saya tertawa.

Well, mungkin kelak, kami akan bertemu unta di saat yang sama dan di tempat yang sama. Mungkin juga tidak salah satunya atau dua-duanya.

Dia tidak lahir di tanah Arab. Dia tidak tahu bahasa Arab kecuali beberapa kata saja. Dia bukan juragan unta. Dia tidak mirip unta. Dia tidak memiliki punuk layaknya unta. Dia tidak berjalan lambat seperti unta. Dia sama sekali bukan unta!

Yang jelas, “Unta” adalah panggilan saya untuknya…
 :D

-mks.25april2012-

Kamis, 12 April 2012

Kau yang suka berbohong



Kau tahu apa yang paling tidak kusukai? JANJI! Tapi sayang sekali, kau selalu memberikan itu padaku. Dan kau tidak pernah tahu bahwa hal seperti itu membuatku berubah “rasa” padamu.
Kita saling mengenal tidak begitu lama. Waktu yang tak banyak itu membuat aku tidak mengenalmu dengan baik, juga sebaliknya, kau tidak mengetahui siapa aku. Aku tidak tahu bahwa kau sangat suka berjanji. Kau tidak tahu bahwa aku sangat membenci janji-janji.
Aku menyukaimu, atau kau yang menyukaiku, itu tak penting.
Beberapa janji, membuat kepercayaanku padamu berkurang. Meskipun janji itu kecil, tapi bagiku sangat berharga. Dan kau melupakan hal yang berharga itu.
Hei, kau mendapat satu gelar dariku: PEMBOHONG. Selamat!

Jumat, 30 Maret 2012

It's mode on!

Cemburu Menguras Hati - Vidi Aldiano

I Love My “Blue” Family

Alhamdulillah. Saya sangat bersyukur dengan adanya pagi ini. Akhirnya, setelah beberapa pekan tidak berkomunikasi dengan keluarga, pagi ini menjadi jawabannya. Saya rindu dengan mereka. Sangat rindu. Ada sebuah alasan yang membuat kami tidak saling menyapa. Dan itu bukan karena kami memang saling ingin menjauh. Well, saya dan keluarga memang seperti itu: saling menghubungi pada saat tertentu saja, atau pada saat kami benar-benar saling merindukan. Tidak setiap hari seperti keluarga lain. Dan saya menikmati nuansa keluarga kami yang seperti itu. Saya suka dengan sesuatu yang tiba-tiba, seperti rindu. Saya mungkin akan bosan ketika setiap hari harus berdialog dengan mereka. Mungkin juga karena kami akan kehabisan bahan pembicaraan.
Well, saya memang harus menjadi orang yang selalu bersyukur. Kapanpun.
Anugrah terindah yang saya miliki adalah menjadi saya, terlahir sebagai saya, dan memiliki keluarga seperti keluarga saya.
Saya sangat bersyukur memiliki ayah, ibu, kakak, adik, kakak ipar, keponakan, sepupu, paman, bibi, kakek, nenek, seperti mereka. Jika hidup saya sekarang diibaratkan seorang murid, maka mereka semua adalah guru yang terbaik. Mereka adalah orang yang sangat mengetahui bagaimana membuat saya tersenyum. Di sisi lain, mereka juga adalah salah satu alasan kenapa saya menangis dalam kesendirian.
Mungkin jika disamakan dengan sebuah Negara, maka keluarga saya adalah Negara yang paling demokratis. Saya memang bebas melakukan apa saja yang saya mau (termasuk kesalahan), tapi karena ada mereka, saya berpikir kembali untuk melakukannya. Dulu, saya bisa saja menjadi bagian dari anak-anak SMA yang nakal (karena saya mengenal baik teman-teman seperti itu), tapi jalan itu tidak saya pilih. Dulu, bisa saja saya menjadi bagian pengguna narkoba (karena saya mengenal dekat teman seperti itu), tapi karena secara tidak sadar, saya memiliki keluarga ini, saya tidak memilih menjadi seperti itu.
Sejauh saya menghidupi keluarga ini, satu hal yang bisa saya definisikan tentang keluarga saya: senyum dan tawa. Ya. Entahlah, bukan karena saya terlalu memuji keluarga saya, tapi memang begitulah keadaannya. Saya suka dengan tawa-tawa dan senyum yang selalu bisa dihadirkan oleh anggota keluarga saya. Mungkin kami bisa dinominasikan sebagai Keluarga yang Selalu Bisa Tertawa. ^^
Contohnya saja, pagi ini. Kakak Ipar saya mengajukan retorika, “Jadi kapan wisudanya, Tun? Juni 2015 atau 2020?” Terang saja saya tertawa (meskipun ada perasaan bersalah juga, sih). Atau saat saya bertanya padanya, “Trus, D Nanang kerja apa sekarang?” Ipar saya ini awalnya bekerja di Kupang. Tapi sejak awal tahun ini, dia memilih berhenti karena tak sanggup jauh lama-lama dari bayi umur 1 tahun yang sangat dia bangga-banggakan karena terlalu cakep (ini beneran lho. LOL). “Yah. D Nanang jadi baby-sitter Gibran aja. Lumayan dapat gaji 100 ribu per bulan dari Kak Yus.” Haha. Saya ketawa setengah mati. Well, Yus yang dimaksud adalah istrinya, kakak perempuanku.
Ayah saya lain lagi. Beliau ini adalah laki-laki paling keren dalam hidup saya. Sampai-sampai, saya pernah berkata untuk diri saya sendiri, seandainya saya menemui laki-laki yang menyerupai ayah saya, saya akan menikahinya (eh?). Karena belum ada, jadi belum menikah. Haha. Ngawur! (istighfar)
Lelaki yang bisa menggombal paling baik, menurut saya adalah ayah saya. Pokoknya yang lain kalah!
Saya termasuk jenis perempuan yang tidak nyaman dengan gombalan murahan. Tapi jika digombalin ayah, saya selalu suka. Mungkin karena gombalan ayah saya itu, sangat elegan. Perhatikan contoh kasus di bawah ini (setting: akhir bulan, dan saya sedang butuh duit :D)
“Ta, minta duit dong…” suara dibuat lemes. XD (“Ta” itu singkatan dari “Teta”. Sebutan “Ayah” di beberapa keluarga tertentu di Bima)
“Buat apa, Nak?” Suaranya tuh, elegan banget.
“Buat beli MP3.”
“Berapa emang?”
“*00 ribu aja,” sambil ketawa-ketawa nyengir.
“Lho, kok sedikit banget? Gak mau nambah gitu? Teta kirimin satu triliuan aja deh. Gimana?” Dan kami semua tertawa.
Ya. Begitulah cara-cara keluarga saya menghadirkan tawa di sela-sela kesusahan dan kesedihan. Sederhana memang, tapi sangat bisa mengobati. Ini yang membuat saya selalu rindu, meski tak pernah saya katakan.
Bagaimana dengan Abang saya? Dia ini sering berkolaborasi dengan almarhum adik saya untuk menceritakan hal-hal lucu. Ketika saya ada di rumah (pulang dari Makassar), mereka akan berlomba-lomba menceritakan hal-hal yang bisa membuat saya tertawa sampai ngakak, bahkan sampai air mata saya keluar.
Oh iya. Ada cerita yang sedikit lucu sewaktu saya SMA. Tetangga di belakang rumah (rumah kami saling membelakangi) yang seumuran nenek-nenek pernah bertemu ibu saya. Nenek ini bertanya pada ibu, “Nis, punya anak perempuan ya? Kok gak pernah keliatan?” Ibu saya menjawab, “Wah, anak saya sudah SMA, Bu Aji. Namanya Atun.” Waktu ibu menceritakan kembali tentang itu, kami semua tertawa. Ayah saya bilang, “Bu Aji gak nyadar aja kalo suara ketawa ngakak yang sampai ke rumahnya itu, suaranya Atun. Haha.” Kentara nih, jarang silaturahim. Nge-bolang melulu sih. Hehe.

Penerimaan. Ini yang saya suka dari keluarga saya.
Mereka sangat menerima apa yang menjadi pilihan hidup saya, meskipun awalnya, ada sekidit protes. Tapi saya paham, hal itu terjadi hanya karena pilihan itu adalah sesuatu yang baru dalam keluarga. Maka ketika saya memahami itu, yang saya perlukan hanya satu: bersungguh-sungguh atas pilihan saya. Konsekuensi dari segala penerimaan, kerelaan dan restu dari orang tua adalah tanggung jawab dari diri saya sendiri. Dan saya sangat berusaha untuk itu. Ah, saya sangat tidak ingin membuat mereka kecewa. Saya terlalu mencintai mereka.
Pernah saat semester satu, nilai akhir Matematika saya eror. Ampun! Saya menangis. Saya menyesalinya. Dengan ragu, saya menghubungi keluarga di kampung. Saya mengatakan yang sejujurnya.
“Ta. Nilai Matematika Atun eror…”
“Ya sudah. Gak apa-apa. Ada pengulangan, kan? Nanti belajarnya lebih keras lagi ya…”
Tidak ada pemaksaan sama sekali. Keluarga saya memahami bahwa segala bentuk pemaksaan akan menghasilkan sesuatu yang kurang baik. Cintai dengan sungguh-sungguh apa yang kalian cinta, begitu prinsipnya.
Ayah tidak pernah memaksa saya belajar. Ayah tahu saya suka membaca, maka setiap saya pulang sekolah, telah tersedia berpuluh-puluh buku untuk saya baca. Ayah tahu saya suka bersepeda, saya diberikan sebuah sepeda. Ayah tahu saya suka jalan-jalan pagi, ayah mengajak saya jalan-jalan pagi. Ayah tahu saya suka Matematika, ayah memberikan beberapa buku rumus singkat Matematika sambil sesekali menemani saya mengerjakan PR dan mengikutkan saya di olimpiade. Ayah tak pernah memaksa.
Di samping kebebasan yang ayah berikan, ada ibu yang selalu khawatir. Dari ibu, saya akan selalu mendapat banyak “hati”.
“Hati-hati di jalan ya…”
“Kalo naik motor, jangan lupa pake lampu weser…”
“Kalo naik motor, gak usah balap-balap…”
“Jangan pulang terlalu malam ya…”
“Jangan terlalu cepat percaya sama orang yang bari dikenal. Jaman sekarang, banyak kejadian orang yang di-hipnotis…”
“Kalo ada orang yang kasih permen, hati-hati. Siapa tahu itu obat tidur…”
Sebelum salam terakhir di telepon, selalu ada kata, “Hati-hati ya, Nak…”
Atau yang paling sederhana, “Kalo mau masak sayur, jangan lupa dicuci. Bayangin deh, keadaan di pasar itu. Banyak debu! Kalo gak dicuci, kita makan debu dong. Kan kotor…”
Haduh! Kadang-kadang, saya merasa ibu saya terlalu polos. Mungkin juga terlalu melankolis. Tidak ada kata lain yang saya bisa katakan untuk membuat ibu tenang selain, “Iya, Ma…” atau “Oke, Bos…”
Yah, begitulah keluarga saya. Seperti pelangi bagi saya, indah sekali.
------------------------------
Sebenarnya saya masih ingin bercerita. Tapi karena tulisan ini sudah cukup banyak dan panjang, saya akan melanjutkannya lain kali. Insyaallah.
Oh, iya. Kenapa “Biru”? Itu karena secara keseluruhan, interior rumah saya dominan berwarna biru. Well, ibu saya suka warna ini. Dan keluarga kami menikmatinya. Ya, ya, ya. Biru memang menenangkan, meskipun saya penyuka hitam.  ;)
Mulai hari ini, saya kembali merasa tenang. Damai…

-mks.5/3/2012-

Sabtu, 03 Maret 2012

Dunia Paralel



Sepertinya saya mulai mencintai sebuah blog baru –blog seorang teman kampus. Saya suka tulisan-tulisan disana. Sederhana. Polos. Jujur. Tanpa ada kebohongan (mungkin). Sebenarnya, saya berniat “menciptakan” blog serupa. Menceritakan segalanya. Ya. Simple is truly beautiful, pal.
Membaca tulisan disana, saya dibuat tersenyum dan berpikir. Well, tulisan terbaik menurut saya adalah yang seperti ini: membuat saya berpikir.
Sebuah postingan di blog itu akhirnya kembali membuat saya menulis tentang ini.
Apa itu dunia paralel? Kata ini terdengar baru di telinga saya.
Ternyata hal ini bermakna bahwa di belahan dunia lain, ada sesuatu yang menyerupai keadaan disini. Misalnya, di Makassar ada sebuah keluarga yang memiliki ciri-ciri tertentu, maka bisa saja di Jerman, juga ada sebuah keluarga seperti itu, yang persis sama. Dan hal tersebut (sedikit) masuk akal bagi saya.
Jadi, bisa saja, di dunia sebelah sana, ada seorang perempuan yang nama, wajah dan tingkah lakunya seperti saya. Ya. Bisa saja. Kita tak pernah tahu. Karena manusia di dunia (bumi) kita ini terlampau banyak.
Nah…
Inilah saya. Dengan nama ini. Wajah ini. Tahi lalat ini. Sifat ini. Se-ribut ini. Se-menjengkelkan ini. Se-mengecewakan ini. Melakukan ini. Mencintai dia. Memiliki keluarga ini. Dengan teman-teman ini. Dengan pilihan ini. Memiliki keinginan-keinginan ini. Dan saya bersyukur menjadi saya. Meski pernah menyesalinya.

 Mungkin saat kamu melihat seorang-perempuan-yang-seperti-saya itu, kamu akan terkecoh dan mengira itu saya.
Pertanyaannya: Jika saya dan perempuan itu ada di depanmu, masih dapatkah kamu mengenali saya dengan baik? Tanpa kekeliruan?

-mks @pioneer5. 28/03/12-

Senin, 23 Januari 2012

Ransel hitam, puisi dan (ehm…) tahun 2010

Maret 2010, sehari sebelum atau sesudahnya…


Seseorang tiba-tiba datang. Melewati sebuah pintu, mengucapkan salam. Dengan ransel hitam. Dia memakai sejenis aksesoris yang sangat khas untuk orang-orang sejenisnya. Ya, ya. Dia memakai baju hitam, tentu, warna kesukaanku. Dia datang, berbicara seadanya sambil memperlihatkan beberapa gambar yang sangat memukau, tapi juga menggelikan. Bahkan ada segelintir orang yang berkata, “Ih, kok gitu, sih?”. Tapi dia tak peduli. Aku sebenarnya tidak terlalu suka dengan kehadirannya. Soalnya dia sedikit slenge’an.

Sepulangnya dari tempat itu, sebagai tuan rumah yang baik, aku mengirimkan salam terima kasih padanya karena telah berkenan hadir pada tempat yang tadi. Dan dia ternyata sangat ramah, sambil berkata, “Terima kasih untuk segelas teh yang kalian suguhkan”. Aku terharu karena menyadari, dia benar-benar baik.


^^^
Maret 2010, sehari sebelum atau sesudahnya…

Aku diwajibkan menulis sebuah puisi untuk dibacakan di depan orang banyak. Aku bingung. Sampai lewat pukul dua belas malam, belum satu katapun aku tulis, sementara puisi itu akan kubacakan pukul sembilan pagi. Aduh, aku kewalahan! Akhirnya, dengan segala kemarahan yang ada ―yang sudah setengah mati kukumpulkan, puisi itu tuntas ditulis. Esoknya, pagi-pagi pukul tujuh, aku berlatih asal-asalan bersama seorang teman untuk membacakannya. Seorang partner puisi yang baik.

Setibanya di panggung, aku gugup luar biasa! Ini adalah kali pertama aku membacakan puisi, di depan orang banyak pula! Tak tanggung-tanggung, jumlah orang-orang itu sekitar seribu-an.

Entah, saat itu dia ada disana atau tidak, akhirnya puisi itu yang membuatku dikenal. Tapi sepertinya aku hampir bisa memastikan, bahwa dia tak ada disana, menyaksikanku membacakan puisi itu. Toh, aku tak peduli saat itu.


^^^
November 2011, tanggal 25
Aku kira kejadian-kejadian sederhana seperti itu tak akan teringat lagi. Tapi hari ini, aku terpaksa membuka disket ingatan itu.

Lalu apa hubungannya ransel hitam dengan puisi? Sama sekali tidak ada!

Memang tidak memiliki hubungan apa-apa. Cuma beberapa waktu lalu, aku selalu ingin mencoba mengingat satu hal: tepatnya tanggal berapa aku mengenalmu. Dan setelah kuingat-ingat, rupanya puisi itu bisa membantuku mengingatmu. :)


^^^
Ya. Terima kasih untuk sebuah puisi. Terima kasih untuk senyuman yang kau berikan pada awal kita bertemu. Terima kasih untuk tahun 2010. Terima kasih untuk sebuah ruangan dan sebuah cahaya. 

taken from: here

Rabu, 30 November 2011

What is this?

Bingung.

Tidak tahu harus bagaimana. Sesuatu ini begitu tiba-tiba. Seperti saat dapat salam pertama dari seseorang waktu kelas 2 SMP. Gugup. 

Ada apakah ini? Seperti hidup yang selalu dimata-matai. Sungguh, perasaan yang tak biasa. Semua seperti serba tak enak. Aih, aih.


Well, lupakan saja lah. 

Sabtu, 27 Agustus 2011

New!

Hullla..! 

Kawan bloggers, apa kabar?
Alhamdulillah, sudah memasuki hari-hari terakhir Ramadhan. Nah, saya malah sibuk utak-atik blog ini. Dan akhirnya, jadilah yang seperti ini. 

Sebenarnya, masih belum puas dengan template baru ini. Makanya, pasca lebaran, insyaallah bakal diganti lagi. #hedeuh!

Happy reading! Happy blogwalking! :D

Sabtu, 23 Juli 2011

Tentang ketidakinginan karena sebuah jika



Kau harus membuka hati sebelum membaca ini, agar kau mengerti.

Kehidupan adalah suatu perjalanan yang semua manusia tahu bagaimana alurnya. Secara umum, sebuah kehidupan beralur seperti ini: bayi – anak – remaja – dewasa – tua – mati.

Di kehidupan ini, ada beberapa keinginan yang semua manusia menginginkannya: tetap hidup atau tetap muda.

Namun, ada keinginan yang banyak diinginkan manusia, tapi ada juga yang tidak menginginkannya. Misalnya, menjadi kaya. Hal serupa ini yang akan saya bicarakan kali ini.

Seperti menjadi kaya, ada sebuah masa dalam hidup yang tidak diinginkan semua manusia yang telah pandai berpikir. Jika memakai ideologi semesta, ketidakinginan pada sesuatu ini adalah sebuah ketidakwajaran. Tapi, adalah sebuah kewajaran juga jika beberapa manusia tidak menempuh jalan ini karena manusia diperkaya dengan anugerah “memilih” dalam hidup.

Keinginan yang saya maksud ini adalah sebuah tahap yang memerlukan (bahkan mengharuskan) beberapa syarat bagi siapapun yang menginginkannya. Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, jika memakai ideologi semesta, keinginan ini adalah sebuah kewajaran (bahkan keharusan). Maka berbondong-bondong manusia akan berusaha meraih keinginan itu (dengan begitu banyak persyaratan ini dan itu). Dan betapa mengagetkan, bahwa sebagian manusia akan ikhlas melakukan bunuh diri jika keinginan ini tidak bisa mereka raih. Padahal manusia-manusia itu meyakini ideologi yang saya maksud semesta.

Saya sebagai penganut ideologi semesta, percaya bahwa keinginan ini adalah sesuatu yang harus dilalui dengan perjuangan.

Tapi…

Seperti judul tulisan ini dan di salah satu paragrafnya, saya tidak akan menginginkan sesuatu ini, karena saya manusia yang mempunyai anugrah ke-berhak-an untuk “memilih”. Hal ini tidak termasuk sebuah ketidakwajaran yang dimaksud oleh para penganut ideologi semesta. Bukan! Saya tidak ingin (karena sebuah jika). Itu saja.

Bukankah saya katakan bahwa sesuatu ini memiliki beberapa persyaratan? Nah, salah satu syaratnya adalah: keinginan ini harus diraih bersama dan/atau dengan manusia lainnya. Keinginan ini adalah sebuah produk yang tak bisa independen, tak bisa berdiri sendiri. Ya.

Maka dari itu, saya kemudian tidak menginginkannya (lagi-lagi, karena sebuah jika).

Jika manusia yang dimaksud untuk meraih keinginan saya itu adalah kau, maka saya tidak akan merugikan kau. Karena “jika” yang saya maksud itu (jikapun–semoga tidak) terjadi, justru akan membuat kau kecewa, sangat kecewa. Dan saya tidak ingin mengecewakan siapapun.  Apalagi kau.

Tapi, jika “jika” yang dimaksud tidak terjadi, bukankah jika saat itu terjadi, maka saya dan kau adalah pribadi yang berdaulat bahwa kita adalah manusia yang paling bahagia di dunia dengan raut muka penuh bunga-bunga?

@@@ A’s @@@

Pagi ini (dan berlanjut malam harinya), saya tiba-tiba memikirkan ini. Ya. Sebaiknya saya memang tak harus memiliki keinginan seperti ini, jika “jika” yang saya maksud memang benar adanya.

Jika kau tidak mengerti tentang apa yang saya tulis, setidaknya saya bisa menjadi lebih tenang, karena kau tidak akan menganggap ini adalah sebuah ketidakwajaran seperti para penganut ideology semesta. Kau mungkin justru akan berkata padaku, “Tabahlah!”
_____________________________________________________________________________________
[Sampai bertemu pada sebuah kepastian, Cinta!]


**Hasan Cakep, 23/7/11**