Tampilkan postingan dengan label SERIAL HIDUP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SERIAL HIDUP. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 September 2012

Mengembara Sebuah Blog

Malam ini saya menjelajahi sebuah blog. Sebenarnya sudah lama saya terus mengikuti isinya. Bahkan tulisan-tulisan (yang saya baca kembali malam ini) pernah saya tuntaskan tahunan lalu. Tapi...

Kali ini sungguh berbeda. 
Saya terisak.
Saya merinding.
Saya tak tahan ingin menangis.

Saya...

Seandainya sekarang saya tidak sedang berada di warnet, sudah pasti saya akan bercucuran airmata. 

ToT


Saya rindu pemilik blog itu... 

Sabtu, 17 Maret 2012

Jika saya mati…

Sore kemarin, saya berkumpul dengan beberapa orang hebat. Orang-orang itu mungkin sudah kenyang (ah, atau belum pernah kenyang) berdiskusi
Dari situ saya menduga, mereka (mungkin termasuk saya) akan melakukan sesuatu yang sangat besar, sangat besar! Ini tentang kehidupan banyak orang. Itupun, kalau yang mereka katakan adalah sesuatu yang benar-benar serius. (Saya katakan “mereka”, karena saya hanya pendengar, sama sekali tak pernah berbicara. Sayangnya, saya terlanjur menulis nama saya, lengkap dengan nomor hape dan email)
Selama saya berada disitu, saya berpikir, siapakah orang yang harus saya percaya dalam keadaan penuh konspirasi dan kebohongan? Saya bahkan berpikir, orang yang ada di seberang saya, bisa saja adalah dalang utama dari kekacauan yang terjadi belakangan ini. Saya tidak bisa sepenuhnya percaya padanya.
Dan tiba-tiba saya membayangkan bahwa saya mati dengan cara yang tidak saya (dan orang-orang lain) inginkan.
Ya. Ya. Ya. Saya punya keinginan tentang bagaimana cara saya mati.
Saya tidak ingin mati terbunuh: ditembak, ditebas, dipanah, ditabrak… (saya tidak rela mati disebabkan bukan kesalahan saya!)
Saya tidak ingin mati kecelakaan
Saya tidak ingin mati bunuh diri
Saya tidak ingin mati dalam keadaan diculik
Saya tidak ingin mati muda –saya ingin mati ketika sudah memiliki cucu, dan keluarga saya bahagia
Saya tidak ingin mati meninggalkan hutang
Saya tidak ingin mati dalam keadaan berbohong
Saya tidak ingin mati ketika saya melakukan dosa
 Saya tidak ingin mati konyol!
….
Saya ingin mati dalam keadaan mengingat Tuhan saya sepenuhnya. Dan alangkah bahagianya saya jika ketika itu tiba, saya melihat wajah-wajah keluarga yang saya cintai…
Jika Tuhan benar-benar memeluk mimpi-mimpi, saya akan terus memimpikan mimpi ini.

~mks.14maret2012~

Sabtu, 03 Maret 2012

Dunia Paralel



Sepertinya saya mulai mencintai sebuah blog baru –blog seorang teman kampus. Saya suka tulisan-tulisan disana. Sederhana. Polos. Jujur. Tanpa ada kebohongan (mungkin). Sebenarnya, saya berniat “menciptakan” blog serupa. Menceritakan segalanya. Ya. Simple is truly beautiful, pal.
Membaca tulisan disana, saya dibuat tersenyum dan berpikir. Well, tulisan terbaik menurut saya adalah yang seperti ini: membuat saya berpikir.
Sebuah postingan di blog itu akhirnya kembali membuat saya menulis tentang ini.
Apa itu dunia paralel? Kata ini terdengar baru di telinga saya.
Ternyata hal ini bermakna bahwa di belahan dunia lain, ada sesuatu yang menyerupai keadaan disini. Misalnya, di Makassar ada sebuah keluarga yang memiliki ciri-ciri tertentu, maka bisa saja di Jerman, juga ada sebuah keluarga seperti itu, yang persis sama. Dan hal tersebut (sedikit) masuk akal bagi saya.
Jadi, bisa saja, di dunia sebelah sana, ada seorang perempuan yang nama, wajah dan tingkah lakunya seperti saya. Ya. Bisa saja. Kita tak pernah tahu. Karena manusia di dunia (bumi) kita ini terlampau banyak.
Nah…
Inilah saya. Dengan nama ini. Wajah ini. Tahi lalat ini. Sifat ini. Se-ribut ini. Se-menjengkelkan ini. Se-mengecewakan ini. Melakukan ini. Mencintai dia. Memiliki keluarga ini. Dengan teman-teman ini. Dengan pilihan ini. Memiliki keinginan-keinginan ini. Dan saya bersyukur menjadi saya. Meski pernah menyesalinya.

 Mungkin saat kamu melihat seorang-perempuan-yang-seperti-saya itu, kamu akan terkecoh dan mengira itu saya.
Pertanyaannya: Jika saya dan perempuan itu ada di depanmu, masih dapatkah kamu mengenali saya dengan baik? Tanpa kekeliruan?

-mks @pioneer5. 28/03/12-

Rabu, 29 Juni 2011

Jam hidup

Gambar diperoleh dari Om Google


“Jam biologis saya itu berbeda dengan orang lain. Jadi, jika ingin twit-nya segera saya balas, silakan kirim pada jam-jam tersebut. Pasti kalian akan segera mendapat balasan dari saya. Karena pagi sampai jam dua belas biasanya saya tidur.”

Itu kata-kata yang diucapkan Trinity, penulis The Naked Traveler, pada rangkaian acara Makassar Writers International Festival, beberapa hari lalu, di Museum Kota Makassar.


Nah, saya tidak akan membahas tentang Trinity atau buku best seller-nya (yang sepertinya tak pernah saya lihat di toko-toko buku). Saya hanya tertarik dengan kata “jam biologis” yang dia katakan.

Jam biologis? Saya tidak tahu pasti apa definisinya. Hanya yang saya pahami, jam biologis itu mengacu pada saat-saat produktif seseorang, atau bisa berarti jam kerja (ngantor, kerja, dsb). Itu yang saya pahami. Saya pribadi lebih suka menyebut istilah itu dengan “jam hidup”.

Jam hidup bagi saya adalah jam-jam dimana akhir-akhir ini saya meninggalkan kamar/pondokan untuk berhubungan dengan dunia luar. Istilahnya, jam hidup adalah jam keluar rumah. Nah, beberapa waktu terakhir, jam hidup ini sangat tak menentu, tapi seperti membentuk pola.

Setelah saya pikir-pikir, ternyata jam hidup saya sangat tidak “manusiawi” (tapi sangat menggambarkan kehidupan mahasiswa tingkat akhir yang sama sekali tak terganggu dengan kata-kata, “Kapan wisuda?” atau “Skripsimu bagaimana?”). Kurang lebih, beginilah gambaran kehidupan saya:

04.20 Wita = Bangun. Mandi. Shalat. Nyuci (kalau ada)
06.05 Wita = Lari pagi. Keliling setengah kampus / main basket
07.45 Wita = Sarapan. Nulis/OL. Beres-beres kamar. Nonton sambil mikirin skripsi #eh
14.02 Wita = Tidur! #astaga
16.33 Wita = Jalan-jalan, terserah kemana. *JAM HIDUP*
21.00 Wita = Kembali ke pondokan. Nulis/OL (lagi). Tidur.


That’s it! Jadi, Kawan, ternyata hidup saya ya, hanya beberapa jam itu. What a bad life! Kemarin, saat jam hidup saya tiba, si Mas Penjual Rujak yang bukan langganan saya menegur.

“Mau kemana?”

“Ngampus” Maksudnya, nongkrong gak jelas di kampus.

“Ciyee, rajin banget sih. Libur-libur gini masih ngampus aja. Eh, tapi emang kuliahnya sore ya?”

“….” Nyengir cakep. Si ThoMas ini gak tahu aja kalau saya cuma ada janji dengan teman-teman.

Hhhhhh! *sigh
Well, beginilah hidup saya. Tapi secepatnya, saya akan mengubahnya, janji!
Saya harus SARJANA tahun iniiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!!!!!! *teriak gak jelas pada dunia


Senin, 13 Juni 2011

#SERIAL HIDUP: Kenapa kita gelisah?



Kau tentu pernah merasa gelisah.

Ada kalanya, kau merasa resah, sedang kau berusaha untuk mencari tahu apa sebabnya. Karena apa dan entah oleh apa. Lalu kegelisahan itu disertai kebingungan. Gelisah tanpa alasan, lalu melahirkan kebingungan. Mengapa?

Kau lalu berusaha berpikir rasional dan kerkata bahwa rasa ini tak wajar. Dan kau terus meyakini bahwa ini hanya sesaat.

“Ah, beberapa waktu lagi, tentu ini akan berakhir…”

Tapi kau salah!

Berhari-hari, setelah kau berkata seperti itu, kau belum juga menemukan “obat” kegelisahan itu. Dan kau semakin gelisah. Semakin bingung. Resah. Kau terbawa oleh perasaan yang semakin dalam. Kepalamu terasa berat. Dadamu sesak, seolah ada sesuatu yang ingin kau sampaikan pada seseorang tentang sesuatu. Kau merasa tak tenang. Sangat tak tenang.

Kau berusaha mencari, dimana gerangan jalan keluar masalahmu. Kau merasa sudah terlalu lama terperangkap perasaan itu.

Kau semakin kebingungan. Semua cara telah kau lakukan: jalan-jalan di mall, menikmati indahnya danau di pagi hari, menghirup udara segar, berteriak di pantai, makan es krim, dan semuanya. Tak ada yang berhasil.
Kau semakin terpuruk. Tak tahu hendak apa lagi. Tak tahu hendak kemana lagi. Kau merasa putus asa. Tak memiliki apa. Tak memiliki sesiapa.

Lalu, saat kau tak sanggup lagi, kau berteriak pada malam, “Apaaaaaaa yaaaaaaang haaaaaruuuus aaaakuuuu laaaakuuuukaaaaannn………..!!!???”
….

Dan aku mendengar teriakanmu. Kau hanya lupa padaku. Seharusnya kau datang padaku, menemuiku. Karena aku bisa memberikan jalan keluar masalahmu. Itulah masalahmu, kau lupa padaku.

“Lalu, apa yang bisa kau lakukan untukku?”

Kemarilah. Akan kutunjukkan sesuatu padamu. Akan kusodorkan sesuatu.

“Apa ini?”

Percayalah! Hanya ini yang kau butuhkan. Bacalah ini. Di halaman sekian, baris kesekian. Bacakan padaku!

“… Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram…”
.....
Ya. Kau benar. Jika kau tak ingin gelisah., jika kau ingin hatimu tenteram, hanya itu yang perlu kau lakukan. Tak perlu yang lain. Tak perlu berteriak pada malam. Satu hal saja cukup. Sekarang, apa kau percaya padaku? [*]
###

Tulisan ini untukmu. Untuk kita semua.