Beberapa waktu lalu saya berbincang-bincang dengan dia, tanpa tatap muka. Lumayan lama kami saling bertukar kata-kata singkat. Meski hal demikian itu hanya sesekali terjadi (oh, well, memang sangat jarang terjadi).
Saat itu kami sama-sama sedang dalam kondisi santai. Mungkin saja.
Saya benar-benar mengenal dia (maksud saya, mengetahui namanya) lebih dari dua tahun lalu. Tapi saya tetap saja jaraaaanngg sekali bertemu dengannya. Dan saya tidak memusingi itu.
Lalu belum genap setahun lalu, saya bertemu dia lagi. Kali ini saya lebih peduli dengannya. Saya mengajaknya bicara seolah telah lama mengenalnya. Saya berusaha menaruh minat yang tinggi pada hal yang dia sukai. Saya berpura-pura. Agar dia tak kecewa.
Beberapa bulan setelah itu, saya bertemu dia lagi. Sebenarnya saya tidak berharap itu. Tapi Tuhan Menginginkan. Mungkin untuk membuat kami sama-sama tersenyum. Atau membuat kami berpikir dan mengingat apa yang telah kami lewati. Saya tersenyum melihat wajahnya yang lucu. Dia tersenyum melihat senyum saya. Sepertinya kami sama-sama senang. Kami masih menyimpan kenangan saat itu.
Nah, dalam kurun dua tahun lebih, kami hanya bertemu sekian kali. Tapi ada sesuatu yang tidak beres kemudian…
“Itulah cara terbaik yang bisa dia lakukan untukmu. Sebaiknya kamu menahan diri dari rasa ingin tahu…” kata Abang.
Suatu saat, dia berdoa untuk saya. Saya mengaminkan. Saya suka dengan doa itu. Membayangkan bahwa dia berharap untuk saya seperti itu (dengan sedikit senyuman), membuat saya tertawa.
Well, mungkin kelak, kami akan bertemu unta di saat yang sama dan di tempat yang sama. Mungkin juga tidak salah satunya atau dua-duanya.
Dia tidak lahir di tanah Arab. Dia tidak tahu bahasa Arab kecuali beberapa kata saja. Dia bukan juragan unta. Dia tidak mirip unta. Dia tidak memiliki punuk layaknya unta. Dia tidak berjalan lambat seperti unta. Dia sama sekali bukan unta!
Yang jelas, “Unta” adalah panggilan saya untuknya…
Beberapa hari yang lalu, saya menghadiri acara sosialisasi Undang-Undang. Tapi sayang sekali, saya terlambat. Seharusnya, saya tiba di lokasi pada pukul 8 pagi. Yeah, karena keteledoran pribadi, saya baru bisa duduk di kursi peserta pada pukul 10. Saya sudah bisa membayangkan betapa banyak hal yang saya lewatkan! *memble
Well, saya menyukai semua hal yang dibicarakan oleh orang di depan saya ini. Saya menyayangkan bahwa saya datang terlambat. Saya juga menyayangkan kenapa saya duduk di kursi belakang (ini juga disebabkan saya terlambat). Duh, saya geregetan. Saya ingin tahu lebih banyak hal lagi. Sayangnya, acara itu terlalu singkat. *memble lagi
Tapi sehabis acara itu, saya memikirkan, mungkin tepatnya membayangkan sesuatu: tentang Bapak Presiden yang dihormati entah siapa.
Apakah Bapak Presiden itu bisa tidur nyenyak di antara kasus korupsi?
Apakah Bapak Presiden bisa makan dengan lahap di antara teriakan mahasiswa yang menolak kenaikan BBM?
Apakah Bapak Presiden memiliki jiwa yang sangat tenang di antara desakan-desakan? *melihat diri sendiri di depan cermin
Apakah Bapak Presiden bisa minum susu dengan santai tanpa membayangkan betapa banyak rakyat yang terdzolimi selama hampir sepuluh tahun ia menjabat?
Jika banyak rakyat yang tidak menyukai Bapak Presiden, kenapa sampai sekarang tidak ada yang berusaha menembak atau menge-bom beliau? *ini bukan doa, hanya pertanyaan
Jika banyak rakyat yang tidak menyukai Bapak Presiden, kenapa sampai sekarang tidak ada yang berusaha menyihir beliau dengan ilmu hitam sehingga beliau mati atau hilang ingatan? *terlalu dipengaruhi sebuah drama
Bagaimana jika Bapak Presiden kesusahan tidur setiap malam –karena memikirkan dosa-dosanya, dan selalu minum obat tidur, lalu tiba-tiba mati karena kecanduan obat?
Bagaimana jika Bapak Presiden tiba-tiba stress karena banyak masalah negara, lalu menjadi gila?
Tapi toh, saya masih ingin melihat Bapak Presiden saya itu. Saya tidak ingin dia mati atau gila seperti pertanyaan-pertanyaan bodoh di atas. Saya ingin dia tetap hidup. Sampai ketika dia benar-benar telah terbukti jahat pada rakyatnya, saya ingin melihat dia dihukum dengan hukuman “bumi” sebelum dia dihukum dengan hukuman “langit”.
Kalau pembaca adalah fans berat dari Bapak Presiden, tidak perlu emosi. Yeah, saya bilang, kalau dia terbukti jahat. Kalau tidak, ya, semoga saja dia hidup tenang sampai akhir hayatnya. Aamiin.
Mungkin akhir-akhir ini, postingan blog ini bakal lebih menjurus ke arah #ngomongin sesuatu. Pokoknya #ngomongin apa saja. Salah satunya kayak di bawah ini. Yuk, bekicot!
Well, anime ini adalah salah satu yang saya suka. Meskipun ceritanya rada-rada “melangit”, tapi jika diikuti sampai akhir, seru juga. Saya merasa memiliki sedikit kemiripan dengan tokoh dalam anime itu: Saya merasa seperti Inuyasha yang pemarah, gegabah, dan susah berpikir panjang (mungkin memang begini ya, sifat siluman?). Saya suka dengan Kagome, yang kadang-kadang cemburu, tapi anggun.
Trus, hubungan Inuyasha sama judul postingan ini apa?
*duduk manis dulu, minum dulu*
Di serial ini, ada banyak yang namanya original soundtrack. Semuanya keren! Salah satu yang saya suka adalah 2nd ending theme-nya: Fukai Mori. Lagu ini dinyanyikan oleh band Do As Infinity dari Jepang. Suara khas vokalis cewek band ini bikin gimanaaa gitu. Pokoknya asyik, asyik! Saya jatuh cintaaaa… *meluk tiang*
Dan karena saya sudah menobatkan hati dan telinga saya untuk jatuh cinta pada suara cewek ini, *halah* akhirnya saya memutuskan untuk mencari info tentang band ini, plus semua lagu mereka. Dan tentu saja, saya semakin menyukainya, secara lagu-lagunya memang easy-listening buat saya.
(Tapi kawans, semua lagu itu hilang bersama Lithium, dan sekarang tersisa dua saja: Fukai Mori dan Rakuen)
Nah, karena saya suka sama suara vokalisnya, makanya saya juga berusaha mencari tahu tentangnya: namanya Van Tomiko. Foto-fotonya yang beredar keren-keren lho. Sepertinya Mbak (eh) Van ini orangnya memang casual-sporty. Dan yang mengejutkan adalah, setahu saya, Van tidak memiliki jenis foto “kotor”. Well, bagi saya, inilah ciri yang patut disukai. Saya memang rada-rada ilfil sama artis cewek yang suka pake bikini.
Nih, saya tunjukin pose Van Tomiko yang paling saya suka :)
Edited by: Atunius XD
Oiya, saya pernah lihat video Do As Infinity yang sedang live concert di Jepang. Waktu itu, Van menyanyikan lagu Fukai Mori. Dengan gayanya yang santai, saya tidak menyangka bahwa Van bakal menangis. Duh, dengar suaranya yang berubah serak, bikin terharu saja.
Yang pengen dengar lagu Fukai Mori, silakan download sendiri ya, atau bisa hubungi saya. Saya bakal dengan senang hati kok, memberikan filenya. X.x
Fakta di balik Van Tomiko dan lagu ini:
· -Fukai Mori punya versi Inggris dengan judul Deep Forest
· -Lagu ini pernah jadi ringtone khusus untuk orang yang saya sayang
· -Foto Van Tomiko pernah jadi foto profil di akun Plurk dan Facebook saya *nyengir*
Yeah. Ini mungkin salah satu postingan yang gak jelas (seperti kebanyakan postingan lain di blog ini, XD). Berikut adalah foto saya yang sedang memakai jaket Trakindo dari Mas Nitnot. Sekalian sebagai bukti buat para Bloofers khususnya Kang Qefy dan Kang Aul, bahwa saya juga memakai jaket yang sama. Suatu saat jika kita ketemu, kita harus memakainya agar terlihat kembar tiga. Ha!
Silakan sesuaikan penglihatan Anda dengan foto ini. Hihi..
Sepertinya saya mulai mencintai sebuah blog baru –blog seorang teman kampus. Saya suka tulisan-tulisan disana. Sederhana. Polos. Jujur. Tanpa ada kebohongan (mungkin). Sebenarnya, saya berniat “menciptakan” blog serupa. Menceritakan segalanya. Ya. Simple is truly beautiful, pal.
Membaca tulisan disana, saya dibuat tersenyum dan berpikir. Well, tulisan terbaik menurut saya adalah yang seperti ini: membuat saya berpikir.
Sebuah postingan di blog itu akhirnya kembali membuat saya menulis tentang ini.
Apa itu dunia paralel? Kata ini terdengar baru di telinga saya.
Ternyata hal ini bermakna bahwa di belahan dunia lain, ada sesuatu yang menyerupai keadaan disini. Misalnya, di Makassar ada sebuah keluarga yang memiliki ciri-ciri tertentu, maka bisa saja di Jerman, juga ada sebuah keluarga seperti itu, yang persis sama. Dan hal tersebut (sedikit) masuk akal bagi saya.
Jadi, bisa saja, di dunia sebelah sana, ada seorang perempuan yang nama, wajah dan tingkah lakunya seperti saya. Ya. Bisa saja. Kita tak pernah tahu. Karena manusia di dunia (bumi) kita ini terlampau banyak.
Nah…
Inilah saya. Dengan nama ini. Wajah ini. Tahi lalat ini. Sifat ini. Se-ribut ini. Se-menjengkelkan ini. Se-mengecewakan ini. Melakukan ini. Mencintai dia. Memiliki keluarga ini. Dengan teman-teman ini. Dengan pilihan ini. Memiliki keinginan-keinginan ini. Dan saya bersyukur menjadi saya. Meski pernah menyesalinya.
Mungkin saat kamu melihat seorang-perempuan-yang-seperti-saya itu, kamu akan terkecoh dan mengira itu saya.
Pertanyaannya: Jika saya dan perempuan itu ada di depanmu, masih dapatkah kamu mengenali saya dengan baik? Tanpa kekeliruan?
Dulu, sewaktu SD, di buku-buku tugas dan raport, sebenarnya nama saya sempat mengalami “penyimpangan”. Ya. Hampir saja saya menyesalinya seumur hidup seandainya Abang saya yang tampan itu tidak membenarkannya. Waktu itu, saya selalu menulis nama saya seperti ini: Uswatun Khasanah. Dan Abang saya berkata, “Hei, nama kamu itu seharusnya begini…” katanya sambil menghapus huruf K. “Nah, begini baru ada maknanya: Contoh yang baik…” ucapnya tersenyum bangga. Saya sih manyun-manyun aja. Maklum masih imut-imut. :)
Beberapa tahun kemudian, setelah saya mulai mengerti beberapa hal, saya kemudian merasakan “sesuatu”: saya tidak suka dengan nama saya.
Pertama. Karena nama itu terlalu popular (kalau tidak ingin dibilang pasaran) di kampung saya.
Kedua. Karena nama panggilan saya “Atun”, saya jadi senewen. Kemana-mana, jika berkenalan dengan orang-orang baru, mereka pasti tersenyum sembari mengingatkan saya pada tokoh perempuan gendut dalam Indonesian-never-ending-sinetron: Si Doel Anak Sekolahan. Lalu mereka berkata, “Eh. Kok Atun yang ini gak gemuk ya? Haha.” Saya protes dalam hati. Serasa ingin hilang dari bumi.
Well, baru kali ini saya mengutarakan kejengkelan saya tentang kisah itu. Selama ini saya menyimpannya dengan rapi dalam ingatan saya sendiri. Haha. ;)
Lanjut…
Di rumah, saya bertanya kepada orangtua saya, bagaimana asal-usul nama fenomenal saya ini (ngomong-ngomong, saya juga heran sendiri, anak seumuran saya waktu itu ─kira-kira usia delapan tahun, kok sempat-sempatnya bertanya tentang asal-usul sebuah nama). Kemudian, Mama bercerita sedikit panjang-lebar. Nah, dari situlah saya baru tahu bahwa ternyata (jeeengggg, jeeenggg) nama saya adalah “titipan” dari nenek Mama (atau dengan kata lain, beliau adalah ibu nenek saya, haha). Jauh sekali asal nama saya ini, saudara! Ckck. Katanya, nenek Mama ini mendapatkan nama ini ketika membaca Alquran, semasa Mama sedang mengandung saya.
“Trus, arti nama saya apa, Ma?”
“Contoh (teladan) yang baik…”
“Oooo…”
“Yang perlu kau ketahui, nama adalah doa, Nak…”
Ketika itu, saya tidak kepikiran apa-apa, selain merasa bahwa nama saya memiliki arti yang bagus, bukan indah. Polos sekali. :/
Dan setelah itu, saya melupakan “tragedi” membenci nama ini. Sampai beberapa tahun kemudian.
---------------
Beranjak remaja, ketika saya SMA dan menyadari bahwa saya sedikit “badung”, saya kembali merasakan nuansa tidak-menyukai-nama-saya-sendiri. Bagaimana tidak? Sayang sekali jika nama seindah itu harus dimiliki oleh seorang seperti saya (halah, lebay sekali!). Apalagi ketika suatu hari, teman sekaligus keluarga jauh saya (namanya Imamul Arif), dengan segala keanggunannya, memajang sebuah puisi “santer” di mading sekolah. Judulnya sangat-sangat provokatif sehingga menimbulkan desas-desus dan menjadi bahan santapan gossip tersedap bagi kelompok penggosip, hehe. Coba simak: “Jadikan Imamul Arif Uswatun Hasanah”!
Waktu itu, jelas saya salting (ini bukan bahasa Inggris yang artinya “penggaraman”, sodara). Tapi, si Imam ini berhasil membuat saya sedikit berpikir: alangkah mulia sekali niat pemuda-hitam-manis ini. Apalagi bait-bait sederhana itu mampu menyentuh jiwa “badung” saya (sayang sekali saya lupa isi paragraf puisi itu). Saya terpikir, sudahkah saya menjadi seperti nama itu?
Meskipun, ketika ada penceramah menyebut kata “uswatun hasanah” dalam khutbahnya, saya bangga-bangga sendiri, gak jelas banget, sambil senyam-senyum, angkat kerah baju, dan sok tidak menyadari bahwa semua mata tertuju padaku. XD
-------------
12 Rabiul Awal 1433 H, hari ini.
Hari ini adalah hari untuk mengingat bagaimana kelahiran Nabi Muhammad, Rasulullah Kekasih Allah (duh, saya merinding menulis ini. Alangkah beruntungnya seseorang yang menjadi Kekasih Tuhan). Banyak hikmah/ibrah yang bisa dipetik dari peristiwa ini, terutama bagi mereka yang menyempatkan diri membaca sirah Rasul. Siang tadi, saya menangis membacanya.
Well, merenungi maulid Rasul, saya (lagi-lagi) teringat dengan sebutan “uswatun hasanah” yang “kebetulan” menjadi nama saya.
Saya merenung, sembari hati saya menangis, betapa jauh diri saya seperti doa yang terucap 23 tahun yang lalu, ketika saya lahir. Tiba-tiba, saya menjadi begitu berat ─sangat berat, memikul nama ini.
Tapi sungguh, setiap hari saya selalu berusaha “menuju” nama itu. Saya ingin sekali menjadi orang baik, seperti yang disabdakan Rasul, “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain”. Saya ingin sekali menjadi seseorang yang selalu bisa membuat orang lain tersenyum ─bukan terluka. Saya selalu ingin menjadi orang yang selalu dirindukan karena kebaikan saya ─bukan dilupakan. Saya ingin selalu bisa membantu orang lain, semampu saya, sesempat saya ─bukan merepotkan. Saya ingin orang lain bahagia ─bukan bersedih. Saya ingin memiliki hati yang lembut ─bukan pemarah seperti ini.
Seperti Rasul yang tetap mencintai, meski selalu dihina.
Seperti Rasul yang selalu mesra bersama Allah, meski beliau pasti masuk surga.
Seperti Rasul yang penyayang, meski jiwanya selalu terancam untuk dibunuh.
Seperti Rasul yang peduli, yang pada masa-masa sekaratnya, masih sempat mengingat ummatnya…
--------
Rindu aku padamu, Ya Rasul
Rindu tiada terperi
Berabad jarak darimu, Ya Rasul
Serasa dikau disini
Cinta ikhlasmu pada manusia
Bagai cahaya surga
Dapatkah kami membalas cintamu
Secara bersahaja…
-Mks, 5/2/2012 (12 Rabiul Awal 1433 H)-
*Seandainya tulisan ini bisa dijadikan kado untuk Rasulullah saw…
Ah, pokoknya saya harus posting ini sekarang! #geregetan
Well, melihatmu (tepatnya, mengintip aktrivitasmu), makin hari makin membuatku menyukaimu. Sumpah, dari awal memang saya selalu suka dengan orang-orang seperti kalian. Aktivitas kalian selalu bisa membuatku iri. Kesana lah, kesini lah. Hal-hal seperti itu yang sangat saya suka.
Nah, melihatmu kali ini, saya semakin ingin dekat denganmu. Senyummu, tingkahmu. Kamu memang sungguh lucu.
1.Pengen bangeeetttttt punya kamera. Tapi maunya beli pake duit sendiri (sabaaarrrrrrrrrr, sabarrrrrrrrrrrr. Nabung dulu)
2.Pengen punya Lithium (lagi)
3.Pengen jadi ibu (sinkron dengan poin selanjutnya). Kalo sudah punya anak, mereka bakal dibekali notebook dan kamera. Setiap hal baru yang mereka jumpai harus dituliskan dan diabadikan.
4.Pengen punya sebelas anak laki-laki. XD (eh, ada yang mau muntah ya? #cuek)
5.Pengen bikin film dokumenter tentang anak sendiri
6.Pengen punya motor
7.Pengen punya kamar gelap
8.Pengen punya studio karaoke
9.Pengen jalan-jalan ke Societeit de Harmonie, nonton teater
10.Pengen belajar nyetir mobil. Maunya diajarin Ridho aja. XD
11.Pengen mandi huuuuuuuuuuuujaaaaaaaaaaaaaaaannnnnnnnnnnnnnnnnnnn. Kayaknya sih, bagusnya malam hari, kalo sudah wisuda nanti. Hihi.
12.Pengen bikin tattoo di tangan (baca: mappacci). Maksudnya, pake hyena.
13.Pengen dapat mahar “Seperangkat Alat Fotografi”. Haha. #gulingguling
14.Pengen nulis buku, bukan antologi
15.Pengen punya satuuuuuuuuuuuuu aja lukisan-karya-sendiri yang bagus
16.Pengen dibikinin buku kayak di film A Crazy Little Thing Called Love #senyummanis
17.Pengen dapat hadiah buku setiap bulan dari orang-orang yang berbeda
18.Pengen punya satu kamar khusus untukperpustakaan pribadi, seperti khayalan saya dan Opu. J
19.Pengen ketemu Efek Rumah Kaca, Dialog Dini Hari, The Trees and The Wild, Bondan, sama (ehm..) Ugoran Prasad
20.Pengen keliling Indonesia. Rutenya: Bima-Sumbawa-Lombok-Bali-Jawa-Sumatera-Kalimantan-Maluku-Papua-NTT (Sulawesi, sebagiannya udah)
21.Pengen ke Venezia, trus keliling-keliling naik perahu (Ya iyalah, kan disana transportasinya lewat air)
22.Pengen bangeeeeeeeeetttttttt ke Jerman (ini mah dari dulu-dulu kaliiii). Kalo bisa, bareng Ridho. Tuing!
23.Pengen ketemu Miroslav Klose. Bareng Ridho juga. Hihi.
24.Pengen ketemu U***, dan bilang kalo sebelum saya kenal dia, namanya adalah tokoh fiksi dalam cerpen pertama saya.
25.Pengen ketemu Inuyasha, Conan, Kenshin (ngayal banget, tapi harus bisa, gimanapun caranya! Eh?)
26.Pengen punya rumah yang serba kayu (desainnya sudah setengah jadi di kepala)
27.Pengen punya rumah di lereng gunung (konsepnya juga udah matang, hehe). #lirikYuna
28.Pengen bikin pameran foto tunggal (tapi khusus foto-foto close-up)
29.Pengen punya ponsel flip, yang fungsinya mirip-mirip di drama Buzzer Beat
30.Pengen punya usaha Rumah Makan. Konsepnya: ada pemancingan, ada kebun obat-obat herbal, ada kebun sayur dan buah. Pokoknya, everything is fresh!
31.Pengen punya pekerjaan yang bukan PNS
32.Pengen rasain (lagi) injak pasir pantai tanpa kaos kaki (artinya, pantainya harus steril dari laki-laki “haram”, tapi susah L)
33.Pengen pintar mainin bass dan drum
34.Pengen (lagi) berani nyebrang. L #kasihan
35.Pengen menjumpai kota seperti dalam film Taiyou no Uta, yang banyak musisi jalanan di malam hari
36.Pengen naik unta
37.Pengen lihat Fir’aun yang dibalsem
38.Pengen rasain tidur di atas gurun pasir
39.Pengen rasain salju
40.Pengen bikin klinik konsultasi gizi/rumah sehat, yang adil
41.Pengen lanjut studi di luar Indonesia. (Ridho pasti senyum-senyum baca poin ini)
42.Pengen temenan sama anak-anak punk
43.Pengen temenan sama pemadam kebakaran, trus bilang, kalo mereka pahlawan dan sangat cool!XD
44.Pengen ke puncak Mahameru, Bromo, Rinjani dan gunung-gunung lain
45.Pengen naik kereta api. Ha! XD
46.Pengen lihat musim gugur di Jepang
47.Pengen lihat pertunjukan perkusi di Jepang
48.Pengen lihat hanabi di Jepang
49.Pengen lihat Himalaya dan Kilimanjaro
50.Pengen bilang ke Jun Woo Sung, kalo aktingnya itu kereeeennnn banget. Apalagi kalo dia lagi nangis.
51.Eh, jangan sampai lupa. Pengen ketemu Andrea Hirata, Fahd Djibran, Donny Dhirgantoro, Paulo Coelho. Sama Nicholas Saputra dan Reza Rahadian. Haha.
52.Pengen semua koruptor-yang-tidak-mau-tobat mati mengenaskan
53.Pengen berpartisipasi dalam mengislamkan Paulo Coelho. Mmm, Agnes Monica juga. Atau, siapapun deh, satu orang aja cukup.
54.Pengen bikin tabungan haji
55.Pengen naik haji sebelum umur 35
56.Pengen masuk surga
57.Dan masih banyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkk lagiiiiiiiiiii
58.Terakhir, pengen semua yang saya pengen terpenuhi. Aamiin.