Senin, 17 Mei 2010

AKU, BEBERAPA HARI INI...



AKU, BEBERAPA HARI INI…


Ada apa dengan bumi?
Dekat waktu ini aku hanya melihat senyum cinta anak-anak hijau yang tak jelas dari mana.

“Mana darah segar yang kau janjikan?”

Darah ketiga, anyir tak ada lagi. Seharusnya masih berbekas pada empat sampai lima. Ada apa? Ah! Bumi lupa pada sesaji yang harus dipenuhinya. Rotasi dan revolusi. Bumi tenggelam dalam kelana melenakan —atau melelahkan? Sepertinya, bumi telah kekurangan oksigen. Mungkin karena pohon-pohon telah enggan bernapas. Atau manusia yang terlalu kikir dengan karbondioksida. Hmm, manusia memang bodoh! Racun untuk tubuhnya sendiri pun tak ingin ia bagi kepada semesta. Lelaki Malang itu benar. Manusia terlalu pelit! Bahkan membagi masalah pada yang lain.

Sayang, darimana saja kau?

Sepertinya kau terlalu sibuk. Hobimu menjelajahi bumi telah sepenuhnya menyita senyum —juga ucapan cinta yang selalu kau paparkan meski hanya dengan presensi dan tandatangan. Apa kau serius dengan cita-citamu menjadi pengembara? Saat terakhir kuhubungi, ternyata kau sedang menjelajahi dunia selatan. Beberapa hari lalu, tiba-tiba kau ada di dunia timur laut. Apakah kau tak lelah, Sayang? Aku sangat mengkhawatirkanmu. Suara serak yang kudengar kemarin menandakan tulang-tulang kekarmu akan mengalami keropos lebih awal dari yang seharusnya. Hmm, ostheoporosis! Jangan pernah disepelekan! Ia juga bisa menyebabkan kematian.

“Mungkin aku terlalu sibuk. Aku hanya butuh kalsium lebih banyak. Aku bisa membelinya di jalanan. Tak usah cemas”

Ya, aku tahu. Seharusnya aku tak terlalu cemas. Kau tentu telah menguasai berbanyak-banyak teori tentang protein, karbohidrat, lemak, vitamin, kalsium, natrium, juga sejuta zat bernada “um” yang lain. Kau lebih pintar tentang itu. Tapi, kau juga tak terlalu cerdas dariku. Karena kau keras kepala. Sangat keras kepala. Ini hubungan antara teori dan perilaku. Kau paham kan? Tentu saja.

“Aku juga ingin menjadi pengembara. Tapi aku tak punya kendaraan”

Bumi ingin pergi? Hei, itu tak boleh terjadi! Apa yang akan menimpa manusia jika bumi melenceng dari rel cincin penuh asteroid yang disediakan Matahari? Hendak kemana jika bumi pergi? Jagad tata surya akan kacau jika bumi secuil tergesek dari porosnya. Perempuan teduh bermata empat itu juga pasti akan merengek-rengek iba. Manusia telah menuhankan bumi. Sementara bumi menuhankan Tuhan. Ini sebuah kekeliruan. Bumi memang telah mengambil keputusan, tapi ia terlalu menyayangi manusia; perempuan teduh bermata empat dan anak-anak hijau. Bumi memang sangat baik hati.

“Tidak kusangka. Ternyata kau sangat beda dengan yang sering kulihat. Aku pikir, kau baik. Kau ternyata sombong juga. Maaf, aku mengganggu malammu” —Lelaki berinisial R—

Apa yang kau ketahui tentangku? Jika ada perbedaan dengan yang kau “lihat” dan “pikir”, lalu sesungguhnya aku seperti apa? Kau hanya belum mengenalku. Kau terlalu cepat menjustifikasi hanya dalam satu malam; dengan SMS dan telepon. Sedikit mengganggu syaraf warasku. Aku kembali mengingat masa abu-abu. Apakah kau termasuk dari mereka yang kebanyakan itu? Akan kuberi kau sedikit pandangan: suara dan kata-kata yang tertera dalam handphone-mu tidak bisa melegitimasi kepribadian seseorang. Bisa saja aku berbohong kan? Aku memang memiliki tendensi untuk itu terhadap orang-orang sepertimu: yang pura-pura salah sambung, dapat inspirasi dari teman kampus, or whatever —terlepas dari alasanmu yang sesungguhnya.

Kenapa kau tak kenalan saja denganku secara langsung? Beritahu namamu yang sebenarnya, alamat, nama orang tua, dan apapun informasi yang bisa membuat kita sama-sama tenang. Tapi, justru sebaliknya. Kau benar-benar telah membuatku tak tenang! Kau membuatku merasa diawasi kemana-mana. Aku tak nyaman dengan posisi ini. Kau ingin mengagumi atau menyayangi, terserah. Hakmu. Tapi kau tak perlu jujur padaku. Aku benar-benar tak nyaman diperlakukan seperti ini. Aku merasa tak dihargai dan dihormati. Hmm, tapi aku punya ide: jika aku merasa tak nyaman, maka kau pun harus begitu. Akan kukatakan padamu bahwa aku adalah mata-mata dari CIA, sekaligus detektif dan kapan-kapan bisa berubah menjadi penjahat kelas hiu: predator, kanibal, pembunuh, pencuri, pemeras, dan semua profesi berawalan “pe” yang bermakna jahat. Ah, atau aku menjadi Kira: Light dan Misa dalam Death Note. Ah, atau menjadi Jean-Baptiste Grenouille dalam Das Parfum. Mengerikan bukan? Mudah-mudahan setelah ini kau tak mengganggu. Aku jahat! Aku tak sebaik yang kau lihat.

“Aku masih menunggu…”

Aku tahu apa yang aku dan kau tunggu: Piala Dunia. Haha! Ternyata kita sama-sama suka bola. Aku senang mengetahui ini. Setidaknya nanti kita bisa saling bercerita tentang pertandingan yang aku atau kau lewatkan. Kita bisa saling mendukung atau menjatuhkan. Aku penasaran, tim mana yang akan kau jagokan. Kau tentu sudah tahu mana yang kupilih. Ya, Jerman! Pesona si “Sebelas” itu tidak pernah pudar setelah delapan tahun berlalu. Sejak ia turut andil dalam skor 8-0 melawan Arab Saudi di Piala Dunia 2002, aku jatuh cinta. Miroslav Klose. Ia adalah alasan tolol yang membuatku ngotot berkunjung ke Negara Hitler itu. Euphoria-nya akan hadir beberapa pekan lagi. Kita akan bersiap-siap. Kau dukung yang mana? Apa kau ada di pihakku?

“Aku masih menunggu…”

Apa lagi, Sayang? Bumi tak lagi seperti dulu. Ia kecewa pada Jingga yang pernah memberinya warna dan cahaya. Senja menjadi tak seindah beberapa tahun lalu, bukan? Kau pernah mengatakan itu. Tapi, aku ragu dengan kata-katamu —bahkan aku tahu, sebenarnya kau pun ragu dengan katamu sendiri. Satu hal yang kupelajari darimu: kau tak bisa melupakan masa lalumu. Lalu, dengan alasan apa kau mengunjungi bumi? Ingin mewarnai? Atau menyinari? Atau menyakiti? Maka tak akan kau dapatkan tujuanmu itu. Akan kubocorkan untukmu. Hanya ada satu alasan untuk melewati pintu bumi: cinta. Jika kau tak memiliki itu, jangan berharap terlalu banyak. Tapi, aku tahu kau tak memiliki cukup keberanian untuk itu. Kau pengecut! Oho, aku jadi tahu apa yang kau tunggu-tunggu: Keberanian!

“Aku tak suka caramu!”

Ternyata kau masih bermain-main dengan tembok-tembok kumuh di sudut kota. Ah, aku kecewa lagi. Tiga jam lalu, aku dapati dirimu mengakrabi seorang perempuan. Kau terlihat sangat menyukai aktivitas ini. Huh, ini hanya impresi sesaat kaum muda menjelang tua sepertimu. Lalu kata-kata itu akan lepas tak berbekas. Slurp! Ditelan bumi. Nah, apa yang kau dapatkan? Alih-alih kepuasan. Kau hanya akan menyesali segalanya. Tunggu saja. Aku tak pernah suka caramu!

Perempuan itu senja. Salamku untuknya. Ada satu fakta yang kuketahui tentangnya: dia sangat menyayangimu. Kau ingat saat kau hendak pindah rumah? Dia datang padaku, menanyakan alamat rumahmu yang baru. Hmm, wajah senjanya sangat pucat ketika itu. Tapi, dia tetap senja yang sangat manis. Kau sudah lama mengenalnya, bukan? Tentu saja. Kau berjumpa dengannya sebelum mengenalku. Sepertinya, aku harus minta maaf karena terlalu jauh tahu tentang kalian. Seharusnya rahasia itu hanya untuk kalian. Maaf!

Perempuan senja itu sangat menyayangimu. Tapi, sekarang aku sadar satu hal: aku tak sesayang itu padamu…

—Tulisan ini untuk adik-adik peserta pelatihan kepenulisan di SMAN 7 Makassar: Aku percaya! Kalian bisa menjadi penulis!—

Tidak ada komentar: