Minggu, 03 Juli 2011

Yang terjadi beberapa hari lalu


Pagi perawan. Sudah tiga hari berturut-turut saya melewatinya dengan bermain basket bersama para sahabat perempuan di lapangan basket pelataran PKM Unhas. Tapi pagi ini serasa berbeda, karena saat saya melabuhkan pandangan ke arah barat, ada asap hitam yang mengepul. Sebagai orang yang sudah lumayan trauma dengan kebakaran, saya panik dalam hati. Sempat bertanya-tanya, ada apa? Mungkinkah terjadi kebakaran di daerah Workshop? Tapi, kok tidak ada huru-hara di sekitar saya? Lalu saya berpikir, ah, mungkin ada pembakaran sampah (massal) di daerah Workshop. Tapi, kok asapnya segitu banget ya? Lalu saya mencoba berpikiran positif, maka hal itu tidak terpikirkan lagi, dan saya melanjutkan bermain basket.

Setelah kalah 6-7 dari tim lawan (kami beradu basket), sesuai dengan kesepakatan, tim kami harus mentraktir tim yang menang untuk makan nasi kuning di Workshop. Kejadian “asap” tadi sebenarnya tak akan teringat ketika mace-mace (ibuibu) penjual nasi kuning tiba-tiba berkata, “Pasar Sentral kebakaran”. Hah? Jangan-jangan kepulan asap hitam tadi berasal dari sana? Seolah tidak mungkin karena Sentral dan kampus lumayan (sangat) jauh. Well, itulah yang terjadi.
“Kabarnya, Pasar Sentral habis terbakar.”

“Kapan, Bu?”

“Kayaknya sekitaran tengah malam tadi.”

Kami semua diam. Terbayang wajah-wajah korban kebakaran disana. Terbayang betapa susahnya mereka harus bangkit merintis usahanya dari awal lagi. Terbayang berapa besar kerugian kejadian ini.

Mace-mace melanjutkan, ”Dulu, sekitar tahun ’93, Sentral juga pernah terbakar, tapi tidak separah ini.” Ia mendesah, kemudian berkata lagi, seolah berkata pada diri sendiri dengan wajah murung, “Bagaimana ya, dengan seragam yang saya titipkan pada penjahit disana? Hangus juga deh…”

Haduh, Bu.. Bu… Memangnya seberapa rugi sih dirimu dibanding penjahit yang kau keluhkan?

Dan entah kenapa, sambil mendengarkan keluhan dan cerita mace ini, saya terpikir untuk mengirim SMS pada para wartawan yang saya kenal tentang berita ini, meskipun saya yakin juga bahwa mereka telah mengetahui kejadian ini. Masa’ sih wartawan tidak tahu? Tapi toh, saya tetap mengirimkan SMS kepada mereka.

Sepulangnya dari kegiatan pagi, segera saya mencoba mencari berita tentang kebakaran tersebut. Sampai di rumah, buka Lithium (laptop, red), googling. Ternyata saya dapat beritanya di Metrotvnews.com. Saya kaget, ini beritanya serius ya? Lebih dari 50 pemadam kebakaran diturunkan? Ah, jangan-jangan Metro lebay lagi nih. Kalau 50-an pemadam dioperasikan, berarti sangat parah kan?
**

Lewat pukul 15.00 Wita, saya memutuskan untuk menuju Pameran Foto Tunggal Haidar Majid, Wakil DPRD Kota Makassar. Tapi pikiran saya berada di Pasar Sentral. Saya membayangkan apa yang sedang terjadi disana. Saya membayangkan orang-orang yang kini sedang sibuk merapikan puing-puing sehabis kebakaran. Dan setelah melewatkan sekurangnya 30 menit menikmati pameran foto, saya memutuskan segera ke lokasi kebakaran.

Tiba di Jl. Laiya, saya merasa jantung saya berdebar-debar. Mungkin tidak siap atau… takut? Ya. Saya sudah cukup “berpengalaman” dengan kebakaran, dan tiga kali kejadian yang telah lalu cukup membuat saya sedikit trauma. Di jalan ini, ramai dipenuhi orang-orang yang berjalan kaki. Saya memastikan bahwa mereka telah atau sedang menuju lokasi kebakaran. Dan sampailah saya di sana…

Saya lumayan terkejut dengan penglihatan saya sendiri: pada bangunan yang terbakar dan dipeluk hitam itu masih ada asap berkepul. Asap hitam! Ternyata, memang masih ada api yang hinggap di tengah bangunan itu.
Di sekeliling saya, orang-orang berlalu-lalang. Ada yang sekadar melirik, lalu jalan. Ada yang memilih menetap di posisinya untuk memandang asap hitam lebih seksama. Jalanan macet oleh timbunan manusia. Sesekali saya mendengar dialog mereka, dengan logat yang sangat Makassar.

Wee, habis betulan…”
Iyokah?”
Iyyo. Keliling ka dari sana to, habis…” Dan dialog diakhiri dengan dua nafas yang mendesah.

Saya sedikit tidak percaya. Disamping kiri saya, terlihat seorang lelaki 30-an berdiri tenang sementara jantung saya kembang-kempis dengan keadaan ini. Saya memutuskan untuk menghampirinya, menyapanya.

Menurutnya, kebakaran terjadi sekitar pukul sebelas malam sesaat sebelum seorang satpam mengaku mendengar ledakan dari dalam gedung. Sepertinya suara itu berasal dari lantai dua. Bapak ini ternyata adalah salah satu “karyawan” toko pecah belah. Ia terlihat sedih ketika mengatakan bahwa tidak ada sama sekali barang yang bisa diselamatkan. Ia juga berkata, mungkin kerugian kejadian ini lebih dari milyaran rupiah.

“Dulu juga pernah terjadi kebakaran disini, Dek. Tapi tidak separah ini.”

“Kapan ya, Pak?”

“Sekitar tahun 90-an”

Diam sejenak. Kami masih terpesona dengan asap hitam.

“Ada tidak yang tinggal di dalam gedung ini, Pak?”

“Untungnya tidak ada.” Hhh, syukurlah. Tapi saya penasaran tentang korban jiwa, makanya saya bertanya lagi.

“Kira-kira ada korban jiwa nggak, Pak?”

“Hm. Mungkin ada. Siapa tahu ada orang yang mau menyelamatkan barang mereka kemudian terjebak di dalam terus tidak bisa mi keluar.” Innalillah! Saya terlalu ngeri membayangkannya, maka saya memutuskan untuk pamit dari bapak ini.

Kemudian saya melanjutkan berkeliling gedung yang terbakar (atau dibakar?) ini. Saya ingin memastikan apakah benar semua sisi gedung ini terkena oleh cumbuan api. Ternyata memang benar. Semua sisi gedung ini dipenuhi warna hitam akibat asap yang menyelinap keluar jendela. Tiba di sisi lain, terlihat beberapa pemuda sedang berusaha mengamankan beberapa mesin jahit/obral dari lantai dua. Tangan mereka telah penuh oleh hitam. Mereka tergesa turun dari gedung sambil membawa rangka mesin jahit yang telah berkarat, seperti peninggalan zaman baheula. Ada beberapa mesin jahit, dan semuanya memprihatinkan.

Saya kembali berjalan. Baru beberapa langkah, saya terhenti dan sedikit terkejut. Saya melihat api! Rupanya api memang belum padam.

Berjalan di sisi lain, terlihat pemadam kebakaran mulai berdatangan. Memang sangat sulit bagi mereka memadamkan api seluruhnya untuk model bangunan kotak seperti ini. Terlalu beresiko! Saya bisa membayangkannya.

Dan senja kini terlihat ingin menguasai bumi. Maka saya memutuskan untuk pergi dari tempat itu.

**
Di perjalanan, perasaan saya teraduk-aduk. Baru saja saya melihat banyak sisi kontras. Penjual mangga masih sibuk menawarkan dagangannya sementara asap di sisi gedung bertebaran melewati jendela. Penjual pakaian anak-anak masih setia dengan teriakan “Singgah ki. Sepuluh tiga, sepuluh tiga!” di antara suara sirine pemadam kebakaran. Toko-toko yang lain masih terbuka meski dengan pintu yang sedikit tertutup, sementara gedung di depannya telah hangus dibakar api. Pemuda-pemuda sibuk memilih-milih pakaian basah yang berhamburan di tanah, sementara beberapa butik telah raib. Pengumpul besi bekas tersenyum kegirangan penuh semangat menyatukan puing besi, sementara ada manusia yang bertopang dagu memikirkan kerugian di sebelah sana.
Ah, hidup…

**

EPILOG
Entah kenapa, selepas menjauhkan diri dari Pasar Sentral, saya melangkahkan kaki menuju Mall Panakkukang. Dan di tempat ini, orang-orang tak kalah memacetkan koridor mall. Ada diskon kah? Tidak. Ternyata ada event Grand Opening Lotte Mart.

Hhhh! Saya mendesah. Baru saja saya menyaksikan gedung yang hangus dilalap api, dan ternyata di sini, orang-orang dengan semangat api berbelanja berburu barang murah.

Hidup memang kumpulan sedih dan gembira di detik yang sama. Beberapa detik terbahak, beberapa detik kemudian terluka. Aih, aih… Kita harus siap menghadapinya. 

10 komentar:

Qefy mengatakan...

Kita tidak pernah tahu apakah ini rahmat atau musibah yang penting berbaik sangka kepada Allah. #kataguruku ^_^

Andi AF Studio mengatakan...

kalimat yang pertama kali kebaca itu "pagi perawan" nyapanya ke perawan doang.. :D yang baca perjaka nih..

Nuel Lubis, Author "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh" mengatakan...

i'm sorry

Ani mengatakan...

Selalu ada hikmah dalam setiap kejadian .. :)

Rin mengatakan...

Ya ampun... kebakaran... :'( semoga kebakaran ini tidak menelan kerugian dan korban yang terlalu banyak... amin.. :'(

adittyaregas mengatakan...

kunjungan perdana nie seklain follow hhe...

koe yg di sapa cuman yg perawan hhe

Asriani Amir mengatakan...

berbahagialah mereka yg mampu memaknai setiap hikmah..

Elkahive mengatakan...

meresmikan komen pertamaku...#gunting pita (plok..plok..plok).
terima kasih, terima kasih, saya cabut dulu.

kak atun : peace

Unknown mengatakan...

Yah memang harus begitu ya mbak
kadang kita bersuka cita, tapi musti siap juga saat musibah menimpa..

Perempuan Semesta mengatakan...

Itik Bali:

Iya, bener banget, Tik...
Kita harus siap2 menghadadapi segala perasaan yang akan menghampiri kita.