Minggu, 24 Januari 2010

ANGGAP INI JAWABAN YANG SELALU KAU CARI







MUNGKIN KITA BISA
Oleh: El Zukhrufy*



Aaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrgggggggggggghhhhhhhhhhhhh!!

Kenapa semuanya menjadi semakin rumit? Tak bisakah hidup kita berjalan seperti para semut memaknai hidupnya? Berjalan apa adanya. Tanpa berontak. Tanpa luka. Seperti semut-semut itu. Ada hitam, ada merah. Aku menyebut mereka para pejuang kehidupan. Tak peduli kapan harus dipitas tanpa sengaja oleh kaki-kaki para pendosa. Tak peduli jika harus tercabik-cabik hanya karena tak sengaja lewat di atas sebuah tangan seorang manusia. Aku ingin seperti semut. Menjadi pejuang kehidupan. Dan aku perempuan. Tapi, tak selamanya harus sok menjadi manusia super yang tak pernah duka. Aku ingin sesekali menggambarkan kodratku yang telah ditentukan Tuhan. Sesekali menjadi makhluk cengeng. Melankolis.

Pagi ini. Tak biru, apalagi jingga. Kelabu juga tidak. Aku menemukan diriku tak bisa memaknainya. Mungkin, aku bisa. Begitu katamu, pernah suatu saat.

Pagi ini. Tak biru, apalagi jingga. Kelabu juga tidak. Aku memutuskan untuk membaca kedua mata, kedua telinga, sebuah bibir, kedua tangan, juga kedua kaki. Aku memutuskan untuk menjelajahi dirimu, meski harus mencurinya dari kesombongan waktu. Aku sebenarnya harus berterima kasih, kepada seorang gadis hitam manis, di sebuah rumah yang sesak karena dihimpit toko-toko. Karenanya, aku berhasil menghadirkan suara hatimu saat ini. Atau membayangkan lesung pipimu yang samar-samar. Pada suara hatimu, kudapati sekumpulan pelaku hidup yang tidak semuanya aku kenal.

Kenapa kita harus mencari makna? Bukankah akan semakin indah jika semuanya masih samar-samar? Seperti aku yang selalu membayangkan lesung pipimu pagi ini. Atau jika tetap ingin menjadi keras kepala, dan kau merasa harus tahu sebalik makna, tanyakan kepada ayah dan ibumu. Mungkin mereka tahu. Ah, pasti mereka tahu. Tanyakan saja. Jika kau tak sanggup jujur, gunakan jurus kepura-puraan yang telah kita kuasai luar kepala. Nah, setelah itu, beritahu aku apa arti makna yang kau dapat dari ayah dan ibumu. Agar kita sama-sama tenang.

“Mengapa bukan ayah dan ibumu saja? “, protesmu sewot.

“Sudahlah. Lakukan saja apa yang kukatakan!”

“Mengapa?”

Selalu mengapa. Dasar! Sudah kebiasaanmu. Kau. Si penyuka banyak mengapa.

“Mereka sudah terlalu tua dan punya banyak anak dibanding ayah ibumu. Lagipula, mereka terlalu jauh di kampung. Terlalu jauh jika harus mencari makna sejarak itu”, jawabku menang, karena aku tahu kau tak bisa menemukan sanggahan yang tepat.

Dan kau, tak pernah protes atau setuju dengan saranku. Tapi juga tak pernah berani meretas makna pada mereka. Pengecut!

Aku (mungkin) ingin tak peduli lagi dengan apa yang terjadi antara kita. Kau pernah berkata, kita akan menang melawan takdir Tuhan. Aku sepakat. Tapi, itu dulu. Sekarang aku tak ingin lagi seperti itu. Menjadi calon manusia durhaka yang tentu juga menjadi calon bahan bakar penghuni neraka. Aku tak ingin seperti itu. Sekarang aku memilih berjalan bersama takdir Tuhan. Seperti apapun itu. Menyakitkan!

Seseorang berkata padaku, jangan pernah mendikte Tuhan. Karena jika kau memaksakan keinginanmu dan berkeras dengan itu, maka suatu saat kau akan sangat kecewa jika ternyata hal itu bukanlah takdirmu. Ya. Itu sangat benar. Maka, sekarang aku merekonstruksi jalan takdirku. Bersama takdir yang dikehendaki Tuhan.

***

Pada beberapa perbincangan dengan ibu. Hanya satu nama yang ia utarakan. Dia. Selalu dia. Ibu tak pernah menyebut namamu. Wajar saja. Karena ibu tak mengenal namamu. Bertemu saja tidak. Ibu hanya kenal dia. Seseorang yang adalah putra dari Pak Haji yang kini perutnya tak buncit lagi. Dia adalah lelaki yang ibu kenal tiga tahun lalu dan sangat baik hati. Lalu, aku HARUS semakin tak peduli denganmu. Agar kelak aku tak terlalu kecewa. Lalu, apa yang harus kulakukan?

“Kemarin, ibu bertemu dengan Pak Haji. Dia menanyakan kabarmu. Katanya, ingin bertemu lagi dengan si gadis perkasa yang ia temui beberapa tahun lalu. Tapi, ibu cuma bilang, kamu baik-baik saja”, suara ibu terdengar riang saat menyebut kalimat-kalimat itu, terus memburu, tanpa peduli, tanpa mendengar suara hatiku yang koyak karena selalu ingin menyebut namamu.

“Oh…”, akhirnya hanya kata itu yang aku ucapkan untuk menimpali cerita ibu.

Aku tak sanggup berkata apapun. Sampai akhirnya, ibu mengalihkan pembicaraan ke topik lain hingga komunikasi kami terhenti.

Menghadapi semua itu. Lalu, apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus menjadi diriku, seorang pemberontak terhadap kemauan ibu, lalu menjadi si anak kundang yang dikutuk menjadi patung batu? Apakah aku harus menjadi diriku, seorang yang jiwanya selalu ingin bebas tanpa peduli apapun?

Menghadapi semua itu, aku hanya bisa terluka. Tak tahu harus melakukan apa. Tak tahu harus mengadu pada siapa. Ibu? Tidak mungkin. Ayah? Beliau terlalu pendiam. Aku tak pernah sekalipun sekedar berceritera tentang rasa perih dan tersakiti pada ayah. Kakak, atau adik? Ah! Mereka semua lelaki. Tak mungkin mereka tahu tentang rasaku. Aku terbiasa meresapinya sendiri. Mungkin, aku terlalu introvert.

***

Jika kau masih mencoba membeli mimpi, apakah kau akan menitipkan namaku padanya? Di sela ketidakpastian yang pasti, masihkah kita ingin mencari makna?

Depan Makassar Town Square, 24 Januari 2010, pukul 18:12:11 Wita
Aku hanya perempuan, kawan!

*Masih berstatus staf HUMAS FLP SULSEL

1 komentar:

Imran Makmur mengatakan...

wow, keyeen....